Wednesday, August 1, 2012

Seorang Wartawan Jepang Nyatakan Syahadat di Suriah



Seorang jurnalis Jepang masuk Islam di Suriah, di depan para pejuang Suriah, Subhanallah Allahu Akbar walillahilhamd.

Seorang Jurnalis Jepang Nyatakan Syahadat di SuriahDalam sebuah video yang dipublikasikan di Youtube, menunjukkan seorang pria bermata sipit, seorang jurnalis Jepang menyatakan dua kalimat syahadat di depan Mujahidin dari batalyon Mamduh Julha yang bergerilya di gunung Al-Turkman di perbatasan Suriah-Turki.

Menurut laporan, ia masuk islam setelah tersentuh melihat sikap baik dari para Mujahidin ketika ia sedang meliput pertempuran di wilayah tersebut.

Dengan terbata-bata ia mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" dibimbing oleh seorang mujahid dari brigade tersebut. Kemudian para mujahidin mengucapkan takbir, dan muallaf ini pun mengikutinya dengan wajah terlihat gembira "Allahu Akbar, Allahu Akbar!". Kini ia bernama Musthofa, hamba Allah yang menemukan hidayah di bumi para syuhada, Syam.

Pada saat itu, bertepatan pada waktu shalat ashar, maka Musthofa langsung diajak untuk sholat. Ia diajari berwudhu oleh salah seorang mujahid. Nampak penuh keseriusan saat ia mengikuti tahapan-tahapan wudhu yang diajarkan. Selalu ada dakwah dibalik jihad, Allahu Akbar!.


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kiper Swedia: Ramadhan itu bukan bulan siksaan Muslim

Rami Shaaban menyambut bulan Ramadhan dengan penuh rasa syukur. Mantan kiper Timnas Swedia itu menyebut Ramadhan sebagai berkah yang tak ternilai.

Kiper Swedia: Ramadhan Ajarkan EmpatiApa pasal? Tidak lain karena ia bisa menjalankan ritual puasa selama sebulan penuh tanpa takut tergoda imannya.

Di kalangan masyarakat Eropa, timbul penafsiran kalau umat Islam yang berpuasa pasti menderita. Mereka beranggapan pesepak bola Muslim yang berpuasa harus menahan haus sembari tetap menjaga staminanya di lapangan. Hal itu bagi mereka mustahil, sehingga ada anggapan puasa Ramadhan hanya menyesengsarakan umat Islam.

Mantan kiper Arsenal itu mencoba meluruskan pendapat sebagian orang Barat tentang puasa. Menurut dia, Islam mengajarkan bagaimana caranya menumbuhkan empati kepada kaum papa dengan berpuasa di bulan Ramadhan.
"It's not a month to feel tortured people (Ramadhan itu bukan bulan di mana Muslim merasa tersiksa)," kicau pemain keturunan Mesir itu lewat ?@shaabanrami.

Shaaban yang selama ini dikenal sebagai pesepak bola Muslim taat menjelaskan bahwa Islam tidak akan menyusahkan umatnya. Yang terjadi, kata dia, kaum Muslim bisa menikmati puasa Ramadhan dengan penuh kebahagiaan sambil menahan lapar hingga matahari terbenam.

"You can still smile and listen to Music and enjoy life even in Ramadan (Kamu masih dapat tersenyum dan mendengarkan musik, serta menikmati hidup bahkan saat bulan Ramadhan tiba)," ujar kiper Hammarby IF tersebut.

Shaaban dikenal sebagai pribadi pendiam. Namun untuk urusan agama, ia patut dijadikan panutan. Pasalnya sebelum bertanding ia biasanya melafalkan beberapa ayat Alquran agar bisa mendapat hasil pertandingan memuaskan.

Dia juga menegaskan tidak pernah minum minuman beralkohol yang diharamkan, termasuk dugem di klub malam yang menjadi kebiasaan pesepak bola pada umumnya.


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Suka dan Duka bekerja di Tambang Batubara



Huuf, pada awalnya Aku sama sekali tidak membayangkan bisa bekerja di sebuah Perusahaan Batubara. Apalagi sampai bertugas di luar Pulau Jawa, yang sama sekali asing bagiku. Tapi akhirnya Aku dapat juga mengalami untuk bekerja di salah satu Perusahaan Batubara yang berkantor di Kota Bandung.

Awalnya Aku bekerja adalah sebagai seorang Checker yang bertugas untuk mengecek kiriman Barang dari Stockpile (gudang) ke Pabrik-pabrik yang lokasinya tersebar di Kota Bandung dan sekitarnya. Sungguh pekerjaan yang mengasyikkan bisa keluar masuk Pabrik dan melihat-lihat cara Produksi mereka. Meskipun harus rela untuk panas-panasan saat masuk ke Ruangan Boiler, karena terkadang aku harus mengecek langsung bagus tidaknya hasil batubara yang dikirim oleh perusahaan. Capek, Panas, Kotor dan harus siap mental dimarahi oleh petugas yang mengoperasikan Boiler tersebut jika hasil kiriman batubara kurang memuaskan. Belum lagi jika harus dikejar waktu untuk secepatnya singgah ke beberapa pabrik. Bukan apa-apa, tapi melewati jalanan di kota Bandung sungguh menguji kesabaran. Kota yang luasnya hanya sepertiga Jakarta itu dari siang sampai pagi selalu macet, mana jalanan kecil (yang terlebar hanya By Pass Soekarno-Hatta), angkot banyak yang ngetem dan memberhentikan penumpang seenaknya, sudah begitu ditambah lagi banyak jalur yang satu arah… Huuf, inilah Bandung, kota terbesar no 4 di Indonesia yang macetnya sama dengan Jakarta.


Batubara

Misalnya waktu itu Saya sedang mengecek di suatu Pabrik didaerah Cibaligo, Cimahi, terus ada panggilan dari Kantor untuk segera kembali ke Kantor yang berada didaerah Dago, setelah itu disuruh mengecek ke pabrik yang berada di Majalaya. Baru sampai pintu masuk pabrik sudah ditelepon lagi agar secepatnya mengambil surat jalan sopir yang tertinggal di depan Tol Baros dan mengantarkannya ke Pabrik di daerah Batujajar! Huuf… Dalam jangka waktu tidak lebih dari satu jam, mesti beres semua. Benar-benar seperti kilat, bayangkan saja dari Cibaligo ke Dago kemudian ke Majalaya terus lagi Tol Baros (Cimahi), setelah itu menuju Batujajar. Setelah saya lihat jaraknya di km sepeda motor saya menunjukkan 74km! Jarak segitu harus ditempuh kurang lebih satu jam dengan gaya selap selip dan merayap di Kota Bandung…

Tapi, itu hanya salah satu pengalaman, dan masih banyak lagi pengalaman “indah” lainnya. Biasanya kalau hari sabtu, kantor kami tutup setengah hari dan karyawannya dapat pulang pukul 13 wib. Dan sebelum pulang, kami selalu ditraktir oleh Bos untuk pergi makan, entah itu ke Restoran, Mall atau Rumah makan biasa. Tapi bagi kami, sesama karyawan itu adalah suatu penghargaan yang sangat besar sekali. Betapa tidak girang jika seluruh karyawan diajak makan-makan oleh Bosnya sendiri. Itulah pengalaman yang bagi saya pribadi sangat mengharukan, karena menunjukkan Bos sebagai Pemimpin perusahaan mau berbaur dengan karyawannya tanpa harus dibatasi oleh peraturan. Karena kalau kami sedang berada di meja makan, dengan santainya dapat bercerita, bercanda dengan Bos tanpa harus takut-takut. Beda lagi jika sudah menghadapi hari Senin, semua kembali normal dan karyawan tidak bisa tertawa sesuka hatinya.

Terkadang juga saya harus pergi ke Cirebon untuk bertugas mencatat data, saat ada kapal tongkang yang bersandar. Biasanya saya bergadang di Pelabuhan Cirebon selama 3 hari saat Kapal Tongkang menurunkan muatan Batubara menuju Stockpile yang berada di daerah Palimanan. Saya juga sering bolak-balik antara Pelabuhan dengan Stockpile untuk memastikan jalannya Truk yang memuat batubara tersebut. Karena kalau tidak diawasi bisa-bisa terjadi “main mata” antara sopir dengan orang-orang dijalan. Sebab harga satu ton batubara lumayan mahal apalagi dalam satu truk bisa memuat sekitar 25 ton lebih. Biasanya kegiatan dipelabuhan dimulai saat pukul 08 pagi hingga pukul 05 subuh berikutnya. Dan kalau sudah begitu harus pintar-pintar menjaga kondisi tubuh agar selalu fit. Ditambah lagi dengan angin malam yang sangat dingin dan kalau siang udara panas Kota Cirebon sungguh menyengat. Belum lagi debu batubara yang berterbangan membikin kotoran menempel diwajah dan sekujur tubuh. Untuk mengisi waktu luang biasanya kami (2-3 orang) mengisi waktu dengan memancing dilaut dan juga berfoto ria.

Setelah beberapa bulan bekerja, tepatnya saat bulan Juli, saya dipindahkan ke Kalimantan Selatan. Tepatnya didaerah Asam-asam yang berjarak sekitar 200 km dari Banjarmasin…

Suka dan Duka Selama Bekerja di Tambang Batubara II (Batubara = BArang TUhan BAgi RAta???)

Akhirnya saya tiba di Bandara Syamsudin Noor dengan selamat. Setelah melintasi Lautan Jawa yang luas, huuf sampai juga ke Bumi Borneo ini. Kemudian saya bersama Ara (Teman satu perusahaan) dijemput oleh Wanto (Perwakilan dari perusahaan yang Join dengan perusahaan Bos kami). Kami jalan jalan sejenak untuk merasakan kota Banjarmasin diwaktu malam hari, tidak lupa mencicipi rasa Soto Banjar yang terkenal lezat itu. Sambil sesekali cuci mata melirik gadis-gadis Melayu disebuah jembatan panjang dekat Masjid raya. Setelah puas keliling, kami memutuskan untuk beristirahat di Hotel Banjarmasin Indah, salah satu hotel paling mewah di kota seribu sungai (bintang 3*).

Esoknya pada pukul 11, kami berangkat menuju kota Asam-asam yang berada di kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Kami bertiga mengendarai sebuah mobil Taft keluaran tahun 1994. Saya hanya geleng-geleng kepala saat Wanto mengemudikannya dengan kecepatan hampir 100 km/jam. Saat melihat-lihat pemandangan melalui jendela, saya merasa aneh sebab sepanjang jalan tidak ditemui pegunungan yang tinggi alias datar saja, beda saat melewati Jakarta - Bandung via Puncak atau Tol Cipularang yang dikelilingi banyak bukit dan gunung. Saat melewati Kota Plaihari hujan sangat deras ditambah dengan jalanan yang berlumpur, sampai beberapa kali mobil kami hampir terperosok masuk parit! Untung Wanto sang pengemudi sangat lihai, mirip Juan Pablo Montoya di F1. Dan lagi terbantu oleh Double Gardan, entahlah jika kami hanya memakai mobil kijang atau lainnya, bisa-bisa malah terperosok beneran.


Rumah yang dijadikan Mes di Kota Asam-asam

Kami sampai di Mes pada pukul 16 sore, langsung disambut oleh Karyawan dari perusahaan Wanto bekerja. Disana kami berkenalan dengan Habib Wai (Habib = orang yang dituakan/ orang yang sangat dipandang), terus langsung disuruh makan sama Acil (Bibi bahasa sana). Kaget juga saat melihat sekeliling rumah besar yang dijadikan mes ini. Sebelah kanan rumah hutan, sebelah kiri hutan, belakang juga hutan bersebelahan dengan sebuah sumur tua yang entah sejak kapan tidak terpakai, yang kata teman-teman sangat angker… (Suka dan duka selama bekerja di Tambang Batubara V : Suara-suara dari Sumur Tua*).

Ditambah lagi dengan halaman rumah yang luas serta berjarak sekitar 100 meter kearah jalan raya, untungnya jalan raya itu selalu ramai dilewati kendaraan karena termasuk jalan Provinsi yang menghubungkan Banjarmasin dan Balikpapan.

Esok paginya kami langsung berangkat ke pelabuhan, jaraknya dari mes sekitar 15 km, dan kalau melalui mobil sekitar 15 menit, tapi jika memakai sepeda motor bisa satu jam lebih. Karena jalan yang dilewati adalah jalur truk pengangkut batubara yang hilir mudik setiap saat tanpa henti. Di pelabuhan saya langsung menuju ke stokpile tempat batubara kami ditumpuk serta langsung melihat-lihat kondisi di sekeliling dermaga. Oh ya, di Asam-asam terdapat beberapa Pelabuhan Batubara seperti Cenko, DTBS, KSO dan serta pelabuhan lainnya. Dahulu menurut cerita Kawan saya, pelabuhan-pelabuhan itu aadalah bekas pelabuhan kayu. Berhubung sekarang sudah sepi, maka banyak yang dialihfungsikan menjadi pelabuhan batubara.


Berfoto didalam tongkang

Di dalam pelabuhan biasanya saya mencatat truk yang masuk di timbangan serta mengawasi persediaan batubara di stockpile yang kami sewa. Karena kalau tidak ada yang mengawasi disana rawan akan pencurian, seperti seorang teman baru yang ditugasi oleh perusahaannya bercerita bahwa sore tadi ia melihat tumpukan batubaranya sudah menggunung, tapi entah bagaimana. Selepas Isya tiba-tiba gundukan batubaranya menjadi sedikit dan terlihat bekas jejak kedukan alat berat (Loader*). Mungkin karena ditinggal sebentar olehnya, ada seseorang yang mengambil batubara tersebut. Entah Operator Nakal atau Pengumpul batubara ilegal yang kemudian dijual kembali dengan harga tinggi.

Tapi itulah Batubara, yang banyak orang mengatakan sebagai “Barang Tuhan Bagi Rata”…
Saya juga mendengar bahwa banyak Pengusaha baru yang tertipu saat membeli batubara dalam pelabuhan. Ceritanya begini, jika ada beberapa orang yang melihat tumpukan batubara di pelabuhan, saya contohkan sebagai si C, kemudian tertarik karena kalori tinggi serta sulfur yang rendah (saat dites ke lab). Terus ia ingin membelinya dengan orang yang mengawasi batubara tersebut, si B. Nah saat itu, ia tak sadar kalau orang yang mengawasinya ternyata bukan asli perwakilan dari perusahaan tersebut. Hanya orang yang suka menipu dan memanfaatkan kelengahan dan ketidak tahuan calon pembeli. Kemudian saat transaksi semua sudah selesai dan si C yang membeli batubara itu ingin mengangkutnya kedalam tongkang, tiba-tiba ada yang mencegahnya. Dan yang mencegahnya tak lain adalah orang yang benar-benar mempunyai tumpukan batubara tersebut (si A) sedangkan orang yang mengaku sebagai pemilik batubara sebelumnya adalah fiktif belaka (si C). Karena diantara Sang pembeli dan Pemilik batubara yang sebenarnya tidak ada yang mau mengalah, maka polemik ini diselesaikan dengan surat asli dari pelabuhan, bahwa pemilik asli batubara ini adalah si A dan bukan si C yang bertransaksi dengan Bos tersebut. Hingga akhirnya lemas lunglai perasaan Pengusaha (si B) tersebut. Karena sudah banyak keluar uang yang tidak sedikit untuk membeli batubara itu. Seperti yang saya tahu, batubara per ton sekitar rp 300 ribu, kemudiana biaya surveyor, biaya angkut dari pelabuhan, belum lagi biaya sewa tongkang yang mencapai rp 400rb untuk sekali angkut ke Pulau Jawa (tahun 2007*). Ya itulah sisi lain dari bisnis batubara, banyak yang sukses tetapi lebih banyak lagi yang gagal.

Sepertia ada ujar-ujar, bahwa seorang Pengusaha dari Jawa yang ingin belajar Ulun dan Pian (bahasa sananya aku, kamu*) Itu tidak gampang dan harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah. Itu hanya kata kiasan disana, tetapi memang benar, kalau tidak bisa pandai-pandai beradaptasi bisa-bisa tertipu seperti yang saya ceritakan diatas.

Written By Baginda Ery on Selasa, 31 Juli 2012 | 23:23

Sudah empat hari ini saya melupakan kisah pengalaman sewaktu bekerja di Tambang Batubara dahulu. Gara-gara sibuk merenovasi Blog pribadi yang sudah setahun tidak dijamah. Untungnya masih lekat sisa-sisa kenangan yang berada di otak kepala saya yang kecil ini. Begitu juga dengan foto-foto, sampai saat ini masih tersimpan dengan rapi. Sebab sebuah kenangan, bagi saya sangat penting. Sebagai bekal untuk bercerita nanti kepada Anak dan Cucu.

* * *

Memasuki bulan Ramadhan, adalah saat-saat yang mendebarkan bagi saya. Karena tidak seperti tahun lalu saat buka, dan sahur kumpul bareng keluarga. Puasa tahun ini harus siap untuk jauh dari keluarga, dan pulangnya minimal seminggu sebelum Lebaran. Tidak enak sih, tapi namanya juga bekerja harus siap menerima dengan lapang dada.

Awalnya sih berat, karena saya setiap hari harus berada dipelabuhan yang panas dan banyak debu beterbangan. Sampai-sampai saya ingin buka puasa pada waktu jam masih pukul 13 siang! Untung saja saya diingatkan oleh teman, kalau tidak… mungkin saya sudah berlari menuju timbangan yang ada kantin. Tapi saat buka puasa, terasa nikmat sekali. Bahkan saya merasa ini adalah anugerah, bisa bertahan dari imsak hingga maghrib dengan kuat menghadapi godaan. Saat buka, kami langsung menuju ke pasar yang berada di simpang empat kota asam-asam. Disana langsung saja saya menghabiskan 3 gelas es kelapa dengan ditambah sepiring nasi padang pakai lauk ayam bakar! Teman saya jadi kaget, sampai-sampai dia bilang ke saya, “kamu, puasa atau dendam???“

Saya hanya tersenyum sambil mengangguk kecil tanda entah setuju atau entah saya lagi tanggung dengan kegiatan yang sangat mengasyikkan ini. Setelah kenyang, kami istirahat sejenak untuk segera melanjutkan Sholat Taraweh di Masjid. Untungnya Sholat Taraweh disana sangat singkat, 11 Rakaat dengan bacaan yang pendek. Setelah selesai kami pulang, dan semalaman kami tidak ada yang tidur, semua pada bergadang. Entah main domino, main internet, atau seperti saya nelpon Orang tua, karena terus terang saya kangen juga akan suasana Puasa di Kampung halaman…


Saat sebelum pengukuran muatan Tongkang (Final Draft)

Nah saat sahur ini yang menarik, karena saya yang paling kecil di mes. Maka saya disuruh oleh Habib untuk pergi beli makanan jam 02 dini hari bersama seorang teman. Mending kalau naik mobil tapi ini hanya naik sepeda motor! (Kebetulan Mobil Taft Rocky yang biasa kami pakai sedang rusak, Hidrolik pecah dan gardannya sedang bermasalah, terus diservis di bengkel sejak seminggu yang lalu). Ga bisa dibayangkan, naik sepeda berdua saat tengah malam buta didaerah yang sama sekali asing bagiku. Untung saya ditemani oleh Wanto, seorang Melayu keturunan Jawa dari kedua Orang tuanya. Uuups benar-benar dingin udara di malam ini dan juga lumayan gelap. Untung bulan puasa, kalau hari biasa saya bisa merinding keluyuran tengah malam begini…

Selama disana saya hanya sanggup puasa sekitar 11 hari, sisanya tidak kuat dan memang tidak niat (entah karena tidak sahur atau pekerjaan yang berat). Kemudian pada tanggal akhir September datang kapal untuk melakukan Loading, memuat 8000 ton batubara untuk diangkut ke Cirebon. Setelah selesai memuat, saya langsung ikut di Tug Boat. Karena sudah tidak kebagian tiket pesawat dan juga Lebaran sudah tinggal beberapa hari lagi. Mau tidak mau, saya harus pulang dengan tongkang itu, daripada Lebaran tidak berkumpul dengan keluarga.

Hari selasa setelah selesai memuat batubara dan dilakukan pengukuran oleh surveyor (Final Draft), tug boat berangkat dari Pelabuhan, perkiraan sekitar satu minggu saya akan mengarungi samudera lepas. Benar-benar membayangkan pun tidak pernah, apalagi mimpi seperti ini. Tapi inilah kenyataan yang harus saya hadapi, pergi dengan Pesawat dan pulang menumpang kapal Tongkang…

Hari pertama disamudera lepas sungguh tidak mengenakkan, saya benar-benar mengalami apa yang dinamakan mabok laut. Ombak yang besar sering menghantam kapal yang kecil tapi bisa menarik muatan 12.000 ton. Belum lagi kalau hujan, semua terasa ngeri untuk dibayangkan. Saya hanya bisa tiduran dibawah dek kapal sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Anehnya Kapten, Chief dan Awak kapal lainnya tidak merasa apa-apa, mungkin karena sudah biasa jadi mereka santai menghadapi masalah seperti ini. Beda dengan saya yang baru kali ini menyeberang laut luas dengan kapal yang kecil. Sebenarnya saya sering juga naik kapal atau feri, tapi semuanya kapal besar dan jarak tempuhnya tidak begitu lama paling hanya 2-3 jam. Seperti yang sering saya alami saat menyeberang dari Merak menuju Bakauheni, dari Gilimanuk ke Surabaya, atau dahulu dari Batam ke Dumai.

Saya sampai tidak bisa makan selama beberapa hari, sebab setelah menelan nasi badan saya menjadi mual akibat kapal yang bergoyang terus. Padahal masakan didalam kapal sungguh lezat, koki pandai sekali membuat masakan yang membuat semua awak kapal makan dengan nambah, kecuali saya.

Kegiatan selama di Tugboat tidak ada, hanya menghitung hari supaya cepat sampai ke rumah dengan selamat. Sesekali saya foto-foto pemandangan di laut, dan yang menarik saat banyak ikan lumba-lumba yang berlompatan ketika kami melewati pulau Karimun Jawa di sebelah utara Semarang. Sungguh keren dan sangat indah pemandangannya, tidak menyesal juga saya harus mengikuti kapal ini.

Bergaya sebagai Juru Mudi…
Kalau malam hari saya paling hanya melihat tv dan menonton beberapa awak kapal yang main kartu domino untuk membunuh waktu. Sambil sesekali saya mencicipi minuman beralkohol. Yuupz, mendengar kata Alkohol saya jadi mengingatnya, karena dari 2 lemari es yang ada di kapal, satu untuk menaruh daging dan sayuran, dan satunya lagi khusus untuk menaruh minuman berbagai jenis, hingga penuh! Benar-benar hobi minum orang yang ada disini, pikirku saat pertama kali membuka lemari es yang berisi minuman beralkohol semua, semuanya tersedia dari yang berharga murah hingga perbotol sekitar jutaan rupiah, dan dari yang kadar alkoholnya 0,5% sampai yang murni 100% alkohol…

Tapi itulah manusia, meskipun sudah terbiasa dilaut dan sering menghadapi badai, namun disaat tertentu mereka juga merasakan apa yang disebut dengan mabuk laut. Dan kalau begitu, mereka langsung meminum minuman alkohol untuk menghilangkan rasa mual.

Saat pertama kali melihat Gunung Ciremai dari kejauhan, perasaan saya sungguh girang tak terhingga. Berarti sudah hampir sampai pelabuhan Cirebon, dan tidak lama lagi saya bisa berkumpul dengan keluarga…

* * *


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Obat Alami Untuk Mengembalikan Keperawanan

5852a  buah+maja Ramuan Alami Untuk Mengembalikan Keperawanan 

Untuk sekarang ini banyak sekali wanita yang belum pernah menikah tapi sudah tidak perawan atau hilang keperawanannya. Hilangnya keperawanan itu sendiri di artikan jika selaput dara sudah sobek karena sebab-sebab tertentu. Misalnya saja karena masturbasi atau terlalu keseringan menunggang kuda. Dan untuk penyebab paling utama atau penyebab paling umum adalah berhubungan intim dengan lawan jenis dimana lawan jenis yang di maksud telah memasukan anunya ke anunya si wanita yang menyebabkan selaput dara sobek.
Bagi orang yang sudah menikah perawan tidaklah penting. Tapi untuk wanita yang belum pernah menikah akan sangat khawatir jika keperawanannya sudah hilang karena takut mengecewakan suaminya kelak atau sebab yang lain. Namun meskipun begitu banyak sekali wanita belum menikah yang cuek atau tidak peduli dengan keadaannya yang sudah tidak perawan lagi karena menganggap hal itu sudah menjadi rahasia umum.
Sekedar info saja, keperawanan itu bisa di kembalikan dengan dua cara. Untuk cara yang pertama dengan operasi dan yang kedua wanita bisa menjadi perawan kembali tanpa operasi atau lebih tepatnya dengan ramuan alami buatan sendiri.
Ramuan alami mengembalikan keperawanan
Untuk membuat ramuan alami yang bisa menjadikan wanita perawan kembali, bahan-bahan yang di butuhkan adalah sebagai berikut
1. Telur ayam jawa
Telur ayam jawa atau telur ayam kampung yang bisa di dapatkan di pasar-pasar tradisional.
2. Kayu cendana
Untuk kayu cendana bisa di dapatkan di toko jamu atau toko obat tradisional.
3. Minyak wijen
Untuk minyak wijen bisa di dapatkan juga di toko jamu atau obat tradisional.
4. Kunyit
Kunyit bisa di dapatkan di pasar tradisional atau di desa.
5. Buah maja
Untuk buah maja bisa di cari di desa di pinggir sungai yang di pinggir-pinggirnya ada pohon besarnya. Kalau tempat menjual buah maja, untuk saat ini saya belum pernah menemuinya.
Jika bahan-bahan yang di atas tadi sudah terkumpul tinggal membuatnya atau meraciknya. Caranya tumbuk kayu cendana, sedikit buah maja, dan juga kunyit hingga menjadi halus. Setelah halus tambahkan sedikit minyak wijen dan juga telur ayam kampung. Untuk telur ayam kampung bisa kuningnya saja atau semuanya. Kemudian setelah semuanya selesai minum ramuan yang anda buat tadi rutin setiap hari satu kali selama satu minggu. Jika anda kurang yakin atau anda merasa vagina anda sudah terlalu sering di pakai, silahkan lakukan cara ini lebih lama lagi tapi sehari tetap satu kali.
Dan sekedar tambahan saja, dengan cara seperti ini sudah ada yang membuktikan dan benar-benar berhasil. Semula saya kurang yakin dengan pengakuan mereka, namun karena jawaban mereka banyak yang menyatakan berhasil saya jadi yakin akan hal itu. Bahkan ada juga komentar di blog madjongke yang satunya yang menyatakan berhasil.
Selain itu ada tambahan lagi yang saya berikan agar masalah keperawanan bisa menjadi sedikit lebih jelas. Yaitu masalah keluar tidaknya darah pada saat berhubungan intim pertama kali. Orang yang pertama kali berhubungan intim itu tidak selalu mengeluarkan darah. Menurut pengakuan dari orang-orang atau lebih tepatnya dari teman-teman saya yang wanita, mereka mengakui bahwa ketika berhubungan intim pertama kali ada yang keluar darah, hanya bercak, dan  ada yang mengatakan tidak keluar sama sekali.
Bahkan ada juga yang mengaku keluar darah setelah beberapa jam melakukan hubungan seks. Untuk penyebab dari semua itu sudah di jelaskan oleh orang yang berkomentar di blog saya yang satunya. Namun karena bahasanya banyak yang di singkat, saya jadi kurang mengerti dan terpaksa tidak saya tulis ulang di blog ini karena takut menjadi salah atau melenceng dari arti yang sebenarnya. Jadi dengan begitu, keluar darah atau tidak pada saat pertama kali ML tidak bisa di jadikan sebagai ciri-ciri wanita yang sudah tidak perawan. Itu saja dan jika ada pertanyaan tentang masalah ini silahkan tinggalkan komentar anda.
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kisah Papua mengilhami Film Avatar !

Kisah Papua Mirip Dengan Kisah di Film Avatar Pandora

 

Wisbenbae pasti tahu film besutan sutradara James Cameron yang tahun lalu menjadi primadona Box Office. Saking sukanya saya sampai menyimpan file film itu di harddisk dan masih saya ulang untuk menontonnya. Mengapa? Saya melihat ada kesamaan kisah dalam film Avatar itu dengan kondisi yang ada di tanah Papua.

Kisah film Avatar berlatar belakang keserakahan manusia bumi yang mengambil bahan tambang hingga ke Pandora, salah satu satelit planet Jupiter. Di Pandora sudah bermukim suku asli yang berkulit biru dan postur lebih tinggi. Dari sisi peradaban manusia bumi jauh lebih maju daripada manusia asli Pandora yang digambarkan tak ubahnya warga Papua yang masih menggunakan panah dan senjata tradisional.

Pertambangan yang dilakukan manusia bumi mendapat pertentangan dari manusia asli Pandora. Untuk meredam pertentangan itu manusia bumi memberikan layanan pembuatan jalan raya, sekolah, dan kesehatan bagi manusia Pandora. Disamping itu para ilmuwan bumi membuat tubuh bawaan(Avatar) yang mirip dengan manusia asli namun dikendalikan oleh ruh manusia bumi dari perlengkapan medis yang modern.

Karena salah seorang ilmuwan tewas dirampok saat di bumi maka diganti posisinya oleh saudara kembarnya yang berlatarbelakang marinir, Jake. Dari sinilah ia kemudian menjadi Avatar dan hidup berdampingan dengan manusia Pandora.

Tetapi pada suatu ketika sang pemimpin misi pertambangan menginginkan lahan tambang besar yang ada di Hometree. Hometree adalah pohon raksasa tempat tinggal salah satu suku yang menjadi tempat menginap Jake. Keinginan ini mengusik nurani Jake yang menyaksikan bahwa manusia Pandora adalah manusia yang layak diberi hak hidup dan tidak boleh diganggu secara kasar. Upaya diplomasi gagal yang pada akhirnya manusia bumi menggunakan kekerasan militer dalam mengusir manusia Pandora di Hometree.

Kejadian ini menggugah nurani Jake untuk membela warga setempat. Pertambangan yang dilakukan tidak boleh melanggar hak hidup warga setempat terlebih lagi merenggut nyawa. Pada akhirnya seluruh suku Pandora bersatu dibawah pimpinan Jake yang didaulat sebagai Toruk Macto. Dan perlawanan itu berhasil mengusir para penambang yang telah merusak alam Pandora dan merenggut nyawa warga setempat.

Kita kembali ke Papua. Dari sisi nama ada kemiripan. Papua dan Pandora. Saya tak mengerti apakah James Cameron sengaja untuk menyentil Freeport dengan film ini. Tetapi kisah yang disampaikan sangat mirip. Sehingga menurut saya sudah saatnya lahan pertambangan emas yang kini dikelola oleh Freeport diambil alih oleh BUMN. Salah satu BUMN yang bisa mengambil alih fungsi teknologinya adalah Antam, Aneka Tambang.

Jika hal ini dibiarkan terus berlarut-larut maka warga Papua akan bersatu melawan kehadiran Freeport. Lebih buruk lagi jika kemudian mereka meminta kemerdekaan sebagaimana yang pernah terjadi pada Timor-timur yang kini menjadi Timor Leste.

Alam Papua telah banyak yang rusak akibat pertambangan Freeport. Alih-alih kesejahteraan, rakyat Papua justru hampir tidak menikmati kekayaan emas dan nikel yang terkandung dalam gunung-gunung di area pertambangan. Apakah ini salah Freeport atau salah pejabat yang memakan seluruh uang setoran yang diberikan Freeport sehingga rakyat Papua tidak merasakan manfaatnya. Mari selamatkan Papua.

Papua……………..i see you!

Wassalam
Lukman Sulistyo

Thor Well, Pintu Gerbang ke Dunia Bawah Laut

Thor Well, atau bisa juga disebut juga sebagai Lubang atau Sumur Thor merupakan sebuah tempat yang dijuluki sebagai ‘pintu dunia laut’. Thor Well terdapat di Amerika Serikat, tepatnya di lautan pasifik. Lubang Thor sangat unik karena merupakan sumur yang terdapat di tengah laut, yang terbentuk secara alami oleh alam.

Air laut yang terhempas oleh ombak, akan masuk ke dalam sebuah lubang raksasa, dan jika arus sedang kencang maka akan menimbulkan gemuruh serta pusaran air yang mengerikan juga membahayakan. Walaupun indah dan diminati oleh banyak orang, untuk mengamati Thor Well, hanya diperbolehkan melihat dari tempat parkir yang terletak di atas tebing. Namun beberapa fotografer, sempat mengabadikan Thor Well dari jarak yang dekat, sehingga kita bisa menikmati, indahnya ‘pintu masuk dunia laut’ ini...









Sumber
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang

Tunggu Ayah di Pintu Surga

Seandainya saja bunuh diri itu halal, saya pasti lakukan dulu sebelum jenazah putra saya satu-satunya dan istri dikuburkan. Untuk apa lagi saya hidup ketika seluruh keluarga saya yang selama ini menjadi penghibur hati dan harapan saya telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Ketika saya bertanya pada Pak Haji yang membesarkan hati waktu itu, ia hanya diam saja. Saat histeris dan berteriak-teriak marah pada diri sendiri yang tak bisa mencegah musibah itu, tetap saja tak seorangpun berkata apa tujuan hidup saya berikutnya selain kata-kata membujuk untuk sabar. Sabar? Untuk apa?

Saya seorang suami, menikahi wanita Aceh yang baik hati. Ia tak terlalu cantik, tapi orangnya sangat baik dan benar-benar polos. Saat menikahinya, gadis Aceh itu masih sangat muda. Umurnya saja baru 17 tahun dan baru tamat SMU. Saya memboyongnya ke Jakarta setelah berhenti bekerja di Aceh. Sayangnya saat bencana tsunami melanda Meulaboh, seluruh keluarga istri saya menghilang tanpa jejak. Waktu saya dan istri berhasil mencapai kota itu beberapa minggu setelah bencana, tak ada yang tersisa selain lantai keramik rumah yang juga terkelupas sebagian. Istri saya sempat shock hebat. Tapi akhirnya kami bisa melewati masa-masa itu dengan saling menguatkan.

Lama sekali kami baru dikaruniai seorang anak, karena istri saya memiliki kista endometrium. Kami sempat berobat di dokter, tapi harus dioperasi. Istri saya tidak berani menjalani operasi, lalu kami pun pindah ke pengobatan alternatif. Setelah menjalani pengobatan lebih dari setahun, barulah istri hamil. Tepatnya lima tahun setelah menikah, istri saya melahirkan seorang anak laki-laki. Saya bangga bukan main karena anak itu terlahir dengan ukuran tubuh hampir 4 kg. Hebatnya lagi, istri saya melahirkan normal.

Pekerjaan saya yang baru juga sekarang benar-benar mengangkat ekonomi keluarga kami. Saya bisa membeli rumah dan mobil di tahun yang sama setelah Raihan lahir. Kebanggaan saya makin lengkap ketika Raihan terpilih sebagai pemenang lomba bayi sehat.

Dua tahun berlalu, Raihan tumbuh jadi anak yang aktif. Dia sudah pandai bicara, hanya bisa tidur kalau saya yang menidurkannya. Makanya saya pun membeli rumah dekat kantor, agar tiap siang bisa pulang sebentar untuk mengurus Raihan. Kata orang-orang, Raihan mirip sekali dengan Bapaknya. Setali tiga uang dalam segala hal. Raihan memang manja sekali sama saya. Kalau hanya bersama Ibunya, dia biasa-biasa saja tapi begitu saya datang, maka penyakit manjanya langsung kambuh. Maunya digendong saja. Saat itu Raihan suka sekali kalau digelitiki, tertawanya bisa kedengaran sampai ke seluruh kompleks. Saya sering membawanya digendong di pundak sambil berkeliling kompleks dan menyapa para tetangga. Semua orang bilang, duh cakepnya Raihan ini. Raihan memang mewarisi mata Ibunya dan rambut ikal saya yang tebal. Kulitnya putih dan badannya tak terlalu gemuk.

Saya pikir hidup saya sudah sangat sempurna. Istri yang manis, anak yang ganteng dan tambah lengkap lagi ketika istri saya memberitahu kalau ia sudah terlambat haid dua bulan. Waktu itu saya berniat mengajaknya ke dokter untuk periksa. Saya berharap, kali ini dia melahirkan anak perempuan agar melengkapi kebahagiaan saya. Tapi karena di kantor lagi sibuk, saya memintanya pergi sendiri dengan taksi.

Istri saya bilang saat itu, dia maunya saya yang mengantar. Karena itu saya pun mengalah dan berjanji nanti akhir minggu itu kami ke dokter.

Siapa sangka itulah awal malapetaka. Saat tidak ada orang di rumah, istri dan anak saya mengalami musibah. Saya tak bisa dihubungi karena saat itu berada dalam pesawat. Saya melakukan perjalanan dinas ke Nusa Tenggara Barat. Ketika sampai, saya hanya dikabari kalau istri dalam keadaan koma di rumah sakit. Detik itu juga saya memburu tiket untuk pulang ke Jakarta. Di bandara, saya menghubungi handphone istri. Tapi yang menjawab Bapak saya yang meminta saya pulang ke rumah. Padahal saya mau langsung ke rumah sakit melihat istri. Bapak hanya meminta saya pulang dulu anak saya di rumah yang katanya memerlukan saya.

Sampai di rumah, lemas lutut saya ketika melihat bendera kuning kecil sudah berkibar di pagar rumah saya. Ketika itu saya mengira hanyalah istri yang pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Tapi ternyata ketika masuk, dua jenazah berjajar menanti kepulangan saya. Saya bingung, jenazah siapa ini?

Bapak mencegah saya melihat kedua jenazah, tapi saya terus memaksa. Dan ketika melihat jenazah anak saya juga terbaring di samping jenazah istri saya, rasanya hati saya hancur bukan main menyaksikan dua orang yang paling saya sayangi sudah tiada. Bapak pun menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya, kalau Istri saya mengalami pendarahan hebat, lalu ia meminta tolong tetangga kami untuk dibawa ke rumah sakit. Karena terburu-buru, mereka melewati lintasan kereta api tanpa mendengar sinyal kereta mau lewat. Dan ketiganya tewas di tempat, tertabrak kereta.

Saya marah sekali. Menyesali diri sendiri karena tak bisa mencegah musibah terberat dalam hidup saya. Minggu-minggu pertama itu, saya seperti orang gila dan terus berteriak-teriak marah. Bapak dan Ibu berkali-kali menyuruh saya untuk sholat. Tapi saya malah marah pada mereka dan menyalahkan mereka karena tak mau menemani istri saya saat saya tinggal keluar kota. Ibu dan Bapak sampai menangis mendengar kata-kata saya.

Setelah empat puluh hari lewat, Bapak tetap tak mengizinkan saya hidup sendirian di rumah. Dia masih tinggal bersama ibu. Bedanya ibu di kamarnya yang biasa kalau menginap di rumah saya, sementara saya dan Bapak selalu tidur di kamar tempat Raihan biasa bermain. Saya memang tidur melingkar terus di kasur tipis tempat Raihan biasa bergulingan sendiri. Beberapa kali timbul keinginan untuk mati menyusul mereka. Tapi Bapak terus mendampingi saya. Dia sholat di samping saya, berzikir kalau sedang duduk menemani bahkan sesekali dia mencoba berbicara dengan saya. Tapi pikiran saya benar-benar kosong melompong, hati dan jiwa saya seperti ikut mati bersama keluarga saya.

Suatu subuh, saya terbangun dan sayup-sayup mendengar Bapak berzikir di dekat saya yang lagi tidur. Saya mendengar Bapak juga berdoa lama sekali, entah apa isi doanya tapi Bapak sampai terisak-isak menangis. Saya juga ikut meneteskan airmata dan baru menyadari kalau Raihan juga adalah cucu satu-satunya Bapak. Saya memang punya tiga orang adik, tapi baru saya yang sudah menikah dan punya anak.

Saya duduk dan menyentuh bahu Bapak. Bapak menoleh, tapi berusaha keras tersenyum. “Sholat, nak. Doakan anak dan istrimu, ya!”

Saat itulah, saya seperti disadarkan dari kesedihan. Saya pun bangkit dan untuk pertama kalinya setelah musibah saya sholat kembali. Saya menangis ketika berdoa, menyesal dan memohon ampun.

Bapak duduk di samping saya menunggu saya selesai sholat. Ketika selesai, Bapak dan saya duduk berdampingan seperti saya masih kecil dulu. Pelan-pelan Bapak menasehati saya.

“Kehilangan anak dan istrimu memang musibah besar dalam hidupmu, Nak. Tapi terus menerus menangisi mereka, itu perbuatan yang sia-sia. Di dunia ini kita hanya bersentuhan dengan dua hal, perbuatan baik atau perbuatan buruk. Itu saja. Karena Allah lebih mencintai anak dan istrimu, agar mereka berdua tak berbuat buruk dan berdosa lebih banyak itu sebabnya Allah mengambil dan menjaga mereka berdua. Ini juga sebagai ujian untukmu dan untuk kita sekeluarga. Apakah kita bisa bersama-sama keluar dari ujian kesabaran ini dan menjadi semakin beriman, atau malah jatuh menjadi hambaNya yang berputus asa?”

“Kalau mau jujur, Bang. Andaikata Bapak ini bisa menangis darah, maka darahlah yang keluar dari mata ini, Nak. Bapak juga sakit di dalam hati sini karena Bapak juga sayang pada menantu Bapak yang soleha dan anakmu yang gagah itu. Tapi seluruh kebahagiaan dunia itu fana. Kebahagiaan sesungguhnya nanti di surga, anakku. Almarhumah istri dan anakmu sudah menantimu di pintu surga. Maukah kau bertahan tetap hidup di dunia dan menjalani hidup yang lebih baik agar nanti bisa bertemu mereka lagi? Dengan mendekatkan diri pada Illahi, insya Allah kau juga bisa melewati ujian ini dengan mudah. Jangan sia-siakan penantian mereka di sana dengan membuat dirimu terjerumus dosa, Bang.”

Saya menangis, kali ini bukan karena kehilangan tapi menyesali perbuatan saya selama ditinggalkan orang-orang tercinta. Saya bukannya mendekatkan diri dengan mereka, tapi malah semakin menjauhi mereka. Mereka menanti saya di pintu surga, saya malah berjalan menuju neraka. Saya pun berjanji pada Bapak untuk berubah. Dan sekarang sudah berbulan-bulan berlalu dari hari yang malang itu, saya masih belum bisa melupakan kenangan indah keluarga saya itu, hanya sekarang saya terus berupaya tetap berada di jalan yang lurus, jalan di mana kelak berujung dengan surga tempat kedua orang yang saya cintai menunggu.

Tunggu saya di pintu surga, sayangku dan kebanggaanku! Nanti kita berjalan bersama menuju kebahagiaan sejati itu.