Showing posts with label Brutal. Show all posts
Showing posts with label Brutal. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Alim Ulama Rohingya Sudah Habis di Myanmar!

Muhammad Rafiq, Pengungsi Rohingya


Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar, saat Muhammad Rafiq mengenang kembali kampung halamannya di Myanmar. Kesedihannya bertambah, ketika saudara Muslim Indonesia mendekap tubuh Rafiq sebagai tanda simpati.


Rafiq adalah salah satu pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar yang kini tinggal di Cisarua, Bogor. Ia bersama istri dan kedua anaknya baru sembilan berada di Indonesia. Sebelumnya ia terlunta-lunta di Bangladesh dan Thailand. Rafiq yang didampingi saudaranya, Din Muhammad, berkisah tentang kondisi terakhir Myanmar dengan bahaya Melayu.


“Saya baru 9 bulan berada di Indonesia. Di Bogor, saya tinggal bersama istri, dua anak, satu saudara saya. Sebelumnya saya mengungsi di Bangladesh selama satu bulan), Thailand Selatan (Patani) selama 1 tahun, perahu Nelayan, saya singgah di Tanjung Pinang (Indonesia) selama 8 hari, lalu ke Medan 3 hari 3 malam, sempat ke Kuningan (42 hari), hingga berakhir di Bogor. Saya difasilitasi oleh IOM dan UNHCR. Di sini, saya dikasih makan dan rumah kecil,” kata Rafiq.


Sebelum mengungsi, Rafiq bekerja sebagai penjual ikan di Arakan. Ia mencoba mengingat kembali pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh junta militer Myanmar. “Rakyat Buddis pake baju militer, mereka bercampur dengan tentara, untuk membakar masjid. 


Pukul 02.00-03.00 dinihari (waktu setempat), tentara mendatangi rumah-rumah penduduk. Anak-anak usia 12 sampai 17 tahun mereka bawa dengan mata tertutup dan tangan terikat, untuk kemudian diperkosa dan dibunuh. Ada diantaranya yang dipotong tangannya.”

“Selanjutnya, rumah warga dirampok, di bom Molotov. Yang jelas, sudah 36 masjid yang dibakar, 76 rumah yang juga dibakar, belum di tempat lain. Sungai-sungai penuh dengan orang mati.


Ketika ditanya apakah Muslim Rohingya melakukan perlawanan? Kata Rafiq, kalau kami bunuh satu orang saja, maka mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi. “Kita lawan, tapi tidak menang. Karena jumlah kami sedikit dan tidak memiliki senjata. Kami hanya menggunakan pisau dan kayu saja.”


Bagaimana dengan ulama Rohingya di sana? “Semua ulama sudah banyak yang ditangkap. Mereka dibunuh. Ada 10 ulama yang berjenggot ditutup matanya lalu dibawa ke mobil untuk ditangkap. Ulama di Myanmar sudah habis. Tidak ada lagi ulama yang menyerukan jihad,” ujar Rafiq sedih dan mengaku tak bisa tidur memikirkan kekejian junta militer Myanmar.


Selama di Bogor, Rafiq berusaha untuk mencari informasi, namun ia kehilangan kontak dengan saudara-saudaranya di Myanmar. Ia hanya bisa berkomunikasi dengan sesama pengungsi di Medan. 


“Saya kontak ke Medan. Sudah tiga kali saya tanya, saya tidak dapat informasi terkini di Myanmar. Pernah saya kontak ke Myanmar, pulsanya cukup besar, Rp. 8000/menit. Saat ini Muslim Rohingya menyebar di sejumlah tempat di Indonesia, mereka ada di Tanjung Pinang, Medan, Kalideres (Jakarta), Kuningan dan Bogor.”


Saat ditanya, apakah anda akan memilih Indonesia sebagai tempat suaka atau sekedar transit saja untuk menuju negara tujuan, Australia? “Saya lebih suka di Indonesia. Di Australia, Muslimnya sedikit. (Voa-Islam)

Lihat yg lebih 'brutal' di sini !

Thursday, August 9, 2012

Barbel 196 Kg Menimpa Atlet Angkat Besi !

Banyak peristiwa yang mewarnai Olimpiade London 2012. Mulai dari peristiwa memalukan, menyenangkan hingga mengharukan bercampur menjadi satu dalam ajang kompetisi 4 tahunan ini.

Kini sebuah kecelakaan pun menghiasi jalannya Olimpiade 2012. Berita kecelakaan ini terjadi pada cabang olahraga angkat besi. Seorang atlet angkat besi asal Jerman, Matthias Steiner harus melakukan rontgen karena leher dan kepalanya tertimpa barbel seberat 196 kg. Matthias merasa tidak terlalu yakin sebelum memulai aksi angkat besi ini.

Ketika dia mulai mengangkat beban 1,5 kali lebih berat dari bobot tubuhnya ini, lutut dan kaki Matthias tidak kuat untuk menopangnya, sehingga beban itu jatuh menimpa kepala dan lehernya. Dalam keadaan tidak berdaya dan kesakitan, tim medis langsung menghampirinya. Untunglah, Matthias masih dapat selamat dari kecelakaan tersebut. Sesaat kemudian dia masih dapat berdiri dan berjalan meninggalkan arena pertandingan. Dia tidak sanggup melanjutkan pertandingan tersebut.

Asosiasi Pers melaporkan bahwa setelah insiden itu, Matthias langsung menuju ke rumah sakit untuk melakukan rontgen. Berikut ini adalah beberapa foto insiden yang menimpa atlet angkat besi asal Jerman tersebut.


Foto-fotonya


http://duniakaomao.blogspot.com/

http://duniakaomao.blogspot.com/










Sumber

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Atlet Putri Nekat Ganti Celana di Tengah Lapangan


Ada-ada saja tingkah laku atlet dari Republik Ceko, Eliska Klucinova. Atlet yang bertanding di cabang heptathlon putri Olimpiade London 2012 ini nekat mengganti celananya di tengah lapangan Olympic Stadium. Wow…
Kejadian ini bermula saat Eliska selesai mengikuti nomor lompat tinggi dan harus segera mengikuti nomor tolak peluru. Sebelum mengikuti nomor tolak peluru, Eliska diharuskan mengganti celana bertandingnya. Nah, sayangnya waktu yang dimilikinya tak begitu banyak. Sehingga Eliska pun nekat mengambil jalan pintas dengan mengganti celana ditengah lapangan.
Saat tengah mengganti celana, sorotan kamera langsung tertuju kepada dirinya. Hal ini membuat seisi stadium kontan tertawa menyaksikan aksi Eliska. Eliska sempat menunda mengganti celananya ketika kamera tertuju kepadanya. Akan tetapi waktu yang sedikit membuat Eliska melanjutkan aksinya.


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kedelai Indonesia Sebenerya Buat Pakan Babi !


JAKARTA - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai Menteri Perdagangan Gita Wirjawan tidak becus melakukan pengawasan terhadap kedelai impor. Khususnya dari Amerika Serikat.

Koordinator Fitra Uchok Sky Khadafi, mengungkapkan kedelai impor yang masuk ke Indonesia ini adalah untuk pakan ternak babi.

"Berdasarkan riset Fitra, yang kita temukan dari informasi dan data yang kami peroleh sudah puluhan tahun, sebelum reformasi sampai sekarang pemerintah dalam hal ini Mendag tidak melakukan pengawasan yang becus," ujar Uchok kepada Tribunnews.com, Jakarta, Kamis (9/8/2012) malam.

Uchok mengatakan Mendag tidak melakukan pengawasan dan seakan menutup mata mengenai kedelai impor, khususnya yang dari Amerika. Selama puluhan tahun itu, kedelai impor yang masuk ke Indonesia dan yang menjadi bahan baku tempe dan tahu itu di Amerika sendiri merupakan pakan ternak babi.

"Kedelai impor yang masuk itu bentuknya bungkil, dimana kedelai itu utuh tapi minyaknya sudah diambil. Dan di Amerika itu buat pakan ternak babi," kata Uchok.

"Kedelai impor itu yang seharusnya untuk ternak di Indonesia dijual di pasar dan itu yang dibeli dan dibuat untuk tempe dan tahu. Sebenarnya bukan untuk dijual untuk konsumsi manusia, untuk ternak. Tapi di negeri ini malah dijual di pasaran untuk akhirnya dikonsumsi manusia," tegasnya sembari mempertanyakan dimana peran pengawasan pemerintah, khususnya menteri perdagangan yang harusnya melakukan pengawasan dan perlindungan kepada masyarakat.

Uchok menuding Gita Wirjawan selaku menteri perdagangan yang punya otoritas tidak becus bekerja mengawasi proses impor kedelai dari negeri asalnya hingga sampai ke tanah air.

Dia menegaskan kealpaan menteri perdagangan melakukan pengawasan atas kedelai impor tersebut tidak sejalan dengan besarnya anggaran yang digelontorkan dalam APBN. Disebutkan, anggaran yang mengucur ke kementerian tidaklah jumlah kecil, sehingga membuat Mendag dan intansinya sulit melakukan pengawasan yang ketat.

Menurut Uchok, anggaran untuk Sekretariat Ditjen standarisasi dan perlindungaan konsumen untuk tahun 2011 sebesar Rp29.240.066.000; Direktorat pengawasan barang beredar dan jasa sebesar Rp35.000.000.000.

Belum lagi anggaran yang digelontorkan buat Direktorat pemberdayaan Konsumen sebesar Rp11.500.000.000; Badan perlindungaan konsumen nasional sebesar Rp15.500.000.000.
"Ini semua untuk tahun 2011," jelasnya.

Sedangkan pada APBN-Perubahaan 2012 dana sebesar Rp2.221.500.000.000 dikucurkan ke Kementerian Perdagangan. Dengan rincian diantaranya, Sekretariat Ditjen standarisasi dan perlindungaan konsumen untuk tahun 2012 sebesar Rp43.534.000.000, Direktorat pengawasan barang beredar dan jasa sebesar Rp42.729.880.000, Direktorat pemberdayaan Konsumen 2012 sebesar Rp17.500.000.000 dan Badan perlindungaan konsumen nasional sebesar Rp16.000.000.000.

Namun, menurutnya besarnya anggaran ini tidak diikuti dengan kerja pengawasan impor kedelai yang baik pula guna melindungi masyarakat sebagai konsumen.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bisa dibuktikan kualitas kedelai lokal dan impor itu sendiri. Keledai lokal yang jadi tempe, habis digoreng keras tidak lembek. Sedangkan keledai impor untuk pakan babi, kalau sudah digoreng, selesai dingin, lembek lagi setelah dingin.

"Kedelai lokal yang dijadikan tempe busuknya lama 2 sampai 3 hari. Kalau kedelai impor sehari sudah busuk. Rasanya, kedelai lokal gurih, atau impor asam. Kedelai yang diimpor itu seharusnya pakai tepung, tapi saat ke Indonesia, dalam bentuk utuh atau curah, dan dikonsumsi manusia. Dan ini pelanggaran HAM, makanan binatang dikasih manusia," pungkasnya.

aing biasa makan tempe ni boi masa aing dikatain babi???

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Sayang Nenek, Anak 11 Tahun Jalan Kaki 11 Hari di Jalan Tol

Seorang anak 11 tahun hanya bermodal 24 yuan  berjalan kaki selama 11 hari sepanjang 150 km di atas jalan tol.

Wu, demikian namanya. Ia tinggal di rumah neneknya di propinsi Jianxi. Orang tuanya bekerja di kota Shishi, propinsi Fujian.


Awal Juali 2012, Wu dibawa untuk tinggal bersama orang tuanya di Shishi. Namun ia tak kerasan tinggal bersama ayah-ibunya, kerana sang ayah terlalu membebani dengan banyak pekerjaan rumah.

Akhirnya, tanggal 14 Julai Wu mengambil wang 4 yuan dari dalam laci dan meninggalkan rumah. Tujuannya hanya satu, kembali ke rumah nenek.

Setelah keluar rumah, ia bingung tak tahu cara melaksanakan keinginannya. Maka Wu memutuskan berjalan di jalan tol, yang ia percaya itu satu-satunya jalan menuju rumah nenek. Yang penting ia harus berjalan secepat mungkin menuju propinsi Jiangxi agar cepat sampai.

Saat malam tiba, ia tidur di area parking kecemasan (semacam tempat istirehat / rest area).

Ia sempat bingung. Wang di koceknya hanya 4 yuan, mana cukup untuk membeli makan dan minum? Untunglah di hari pertama perjalanannya, Wu bertemu orang yang mahu memberinya sedekah sebanyak 20 yuan.
Selama 11 hari perjalanan, Wu hanya boleh membeli 5 botol air mineral dan 2 potong roti. Saat bekal minumannya habis, ia terpaksa meminum air yang ada di rest area.

Pada tanggal 24 Julai, seorang pekerja jalan tol melihatnya. Tubuh Wu sudah hitam, berdebu, dan penuh memar. Anak ini pun segera diserahkan kepada polis setempat.

Kepada polis, Wu menceritakan semuanya.

"Awalnya saya sangat takut kerana kereta laju lal di depan saya, tapi akhirnya saya jadi terbiasa," katanya kepada polis.

Akhirnya Wu dijemput orang tuanya di balai polis
, kemudian dibawa ke rumah sakit.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Serunya pesta kanibal thailand !

Ketika menyaksikan foto ini, saya berharap bahwa semua ini adalah bukan foto nyata dan hanya foto rekayasa atau hoax saja. Karena jika foto-foto ini benar dan memang sebuah kenyataan berarti manusia sedang menghadapi tragedi yang sangat memilukan, dimana manusia menyembelih, menguliti dan memasak daging manusia seperti melakukannya terhadap binatang dan setelah itu mereka memakannya bersama-sama dalam suasana pesta.

Dari sumber yang saya baca, bahwa kejadian ini terjadi di Thailand. Sumber tersebut menyatakan bahwa ini adalah sebuah ritual sesat pemuja Iblis yang terjadi di negara tersebut

Silahkan pembaca menilainya sendiri, namun kalau dilihat dari detail foto-foto yang ada terlihat bahwa foto-foto ini adalah foto yang sangat realistis, susah bagi orang untuk merekayasa foto hingga jadi foto seperti ini. Silahkan anda menilainya sendiri dan simpulkan sesuai yang anda pahami tentang fotografi. Jika para Pembaca ada yang mempunyai informasi tentang foto ini silahkan tuliskan di kolom komentar dari posting ini.



[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]


[imagetag]