Showing posts with label Tombo Ati. Show all posts
Showing posts with label Tombo Ati. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Alim Ulama Rohingya Sudah Habis di Myanmar!

Muhammad Rafiq, Pengungsi Rohingya


Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar, saat Muhammad Rafiq mengenang kembali kampung halamannya di Myanmar. Kesedihannya bertambah, ketika saudara Muslim Indonesia mendekap tubuh Rafiq sebagai tanda simpati.


Rafiq adalah salah satu pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar yang kini tinggal di Cisarua, Bogor. Ia bersama istri dan kedua anaknya baru sembilan berada di Indonesia. Sebelumnya ia terlunta-lunta di Bangladesh dan Thailand. Rafiq yang didampingi saudaranya, Din Muhammad, berkisah tentang kondisi terakhir Myanmar dengan bahaya Melayu.


“Saya baru 9 bulan berada di Indonesia. Di Bogor, saya tinggal bersama istri, dua anak, satu saudara saya. Sebelumnya saya mengungsi di Bangladesh selama satu bulan), Thailand Selatan (Patani) selama 1 tahun, perahu Nelayan, saya singgah di Tanjung Pinang (Indonesia) selama 8 hari, lalu ke Medan 3 hari 3 malam, sempat ke Kuningan (42 hari), hingga berakhir di Bogor. Saya difasilitasi oleh IOM dan UNHCR. Di sini, saya dikasih makan dan rumah kecil,” kata Rafiq.


Sebelum mengungsi, Rafiq bekerja sebagai penjual ikan di Arakan. Ia mencoba mengingat kembali pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh junta militer Myanmar. “Rakyat Buddis pake baju militer, mereka bercampur dengan tentara, untuk membakar masjid. 


Pukul 02.00-03.00 dinihari (waktu setempat), tentara mendatangi rumah-rumah penduduk. Anak-anak usia 12 sampai 17 tahun mereka bawa dengan mata tertutup dan tangan terikat, untuk kemudian diperkosa dan dibunuh. Ada diantaranya yang dipotong tangannya.”

“Selanjutnya, rumah warga dirampok, di bom Molotov. Yang jelas, sudah 36 masjid yang dibakar, 76 rumah yang juga dibakar, belum di tempat lain. Sungai-sungai penuh dengan orang mati.


Ketika ditanya apakah Muslim Rohingya melakukan perlawanan? Kata Rafiq, kalau kami bunuh satu orang saja, maka mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi. “Kita lawan, tapi tidak menang. Karena jumlah kami sedikit dan tidak memiliki senjata. Kami hanya menggunakan pisau dan kayu saja.”


Bagaimana dengan ulama Rohingya di sana? “Semua ulama sudah banyak yang ditangkap. Mereka dibunuh. Ada 10 ulama yang berjenggot ditutup matanya lalu dibawa ke mobil untuk ditangkap. Ulama di Myanmar sudah habis. Tidak ada lagi ulama yang menyerukan jihad,” ujar Rafiq sedih dan mengaku tak bisa tidur memikirkan kekejian junta militer Myanmar.


Selama di Bogor, Rafiq berusaha untuk mencari informasi, namun ia kehilangan kontak dengan saudara-saudaranya di Myanmar. Ia hanya bisa berkomunikasi dengan sesama pengungsi di Medan. 


“Saya kontak ke Medan. Sudah tiga kali saya tanya, saya tidak dapat informasi terkini di Myanmar. Pernah saya kontak ke Myanmar, pulsanya cukup besar, Rp. 8000/menit. Saat ini Muslim Rohingya menyebar di sejumlah tempat di Indonesia, mereka ada di Tanjung Pinang, Medan, Kalideres (Jakarta), Kuningan dan Bogor.”


Saat ditanya, apakah anda akan memilih Indonesia sebagai tempat suaka atau sekedar transit saja untuk menuju negara tujuan, Australia? “Saya lebih suka di Indonesia. Di Australia, Muslimnya sedikit. (Voa-Islam)

Lihat yg lebih 'brutal' di sini !

Nicolas Anelka: Tenang dan Nyaman Sejak Memeluk Islam

Nicolas Anelka: Merasa Tenang dan Nyaman Sejak Memeluk Islam Nicolas Anelka dikenal sebagai penyerang gandas dan pemeluk Islam yang taat. Menurutnya, Islam telah memberikan petunjuk dalam hidupnya.

Publik sepakbola tentunya tak asing lagi jika mendengar nama Anellka. Ya, penyerang berdarah Prancis itu adalah penyerang berbahaya apabila berada di mulut gawang lawan.

Ketajaman bomber berkepala plontos itu bisa dibuktikan dengan menjadi top skor Liga Primer Inggris dengan raihan 22 gol di musim 2008/2009 bersama Chelsea.

Di balik kegarangannya dalam menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan, Nicolas Anelka memiliki sikap yang sangat dingin. Ia sangat jarang tersenyum ketika sudah berada di lapangan. Terkadang, rekan-rekannya sering merasa serbasalah ketika berbicara dengannya. Dirinya sangat fokus pada permainan.

Lahir di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979, Nicolas Anelka menghabiskan masa kecilnya di Trappes, sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran barat Kota Paris. Sebelum menjadi seorang Muslim, Anelka adalah seorang atheis alias tidak percaya adanya Tuhan.

Namun, ketika tidak beragama itulah, dia banyak bergaul dengan temannya dari keluarga Muslim. Dari situlah striker yang kini membela klub Liga Super Cina, Shanghai Shenhua itu mulai tertarik dengan Islam. “Saya menjadi ‘seorang Muslim’ sejak saya berusia 16 tahun,” kata Anelka kepada majalah Super yang berbasis di Arab Saudi.

Kepada majalah FourFourTwo, juru gedor 33 tahun yang mengantarkan Prancis merengkur tropi Piala Eropa 2000 itu mengungkapkan alasan mengapa memilih IslamAnelkan menegaskan Islam adalah cara hidup yang sesuai dengannya.

“Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya hari ini. Tapi ini adalah masalah pribadi dan saya tidak membicarakan hal itu terlalu sering. Itulah sisi pribadi saya.,” ujar pemilik nama Muslim, Abdul Salam Bilal Anelka itu.

Memeluk Islam, mengantarkannya pada perubahan positif dalam hidupnya. Mantan bomber Chelsea itu berpendapat, Islam menuntunnya untuk bertindak dengan bijaksana. Tidak lupa, dia menegaskan Islam adalah sumber kekuatan dalam dan di luar lapangan.

“Saya memiliki karier yang sulit, saya kemudian memutuskan untuk menemukan kedamaian.Dan sejak saat itulah, saya memutuskan memeluk Islam," tegas Anelka.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Friday, August 10, 2012

Haram Hanya Bikin Sengsara Dan Panas

Apa pun yang dibangun atau diperoleh dengan cara tidak sah atau haram, baik haram menurut hukum agama maupun haram menurut hukum negara, pastilah akan menimbulkan siksaan, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Itulah sebabnya kaum muslimin diingatkan betul agar berhati-hati dari makanan maupun perilaku haram. Kalau makanan dan perilaku kita bersih, kita bisa menikmati hidup dengan tenang dan bisa melahirkan keturunan yang baik-baik dan membanggakan. Pernah mendengar nama Syech Abdul Qodir Jailani? Dia adalah hasil dari keluarga yang sejak awal menjaga diri dari makanan dan perbuatan yang haram.

Saat muda, Sayyid Muhammad Sholeh selalu menjaga diri dari makanan yang haram.Pada suatu hari,karena kehausan yang luar biasa saat jadi musafir, dia datang ke satu sungai yang airnya sangat jernih untuk minum. Tiba-tiba ada sebuah apel yang mengapung di depannya dan dia memungut lantas menggigitnya dengan spontan. Tapi begitu gigitan pertama itu sampai di lehernya, sang Sayyid kaget luar biasa.

“Astaghfirullah, saya telah memakan apel tanpa izin dari pemiliknya, ini haram,” serunya. Dia bertekad meminta maafdan penghalalan dari pemiliknya. Tapisiapakahpemilikbuahapel itu? Maka menyusurlah dia ke hulu sungai untuk mencari tempat atau orang yang apelnya jatuh menggelinding ke sungai sampai akhirnya dia menemukan sebuah pohon apel di tepi sungai. Dicarilah pemilik pohon itu sampai ketemu.

“Tuan, saya telah memakan apel secara haram. Sebuah apel jatuh ke sungai dari pohon milikmu dan saya telah memakannya tanpa hak. Saya minta dihalalkan dan saya bersedia dihukum dengan apa saja,” kata Sayyid Muhammad Sholeh. Pemilik pohon apel tertarik atas kesalehan tamunya yang masih muda.“Saya akan maafkan kamu dari ketelanjuranmu memakan apel dari pohon apel saya dengan syarat kamu bekerja di kebun apel saya selama 10 tahun.

Karena ingin membersihkan darahnya dari noda makanan tidak halal, Sayyid Muhammad Sholeh menyatakan bersedia menjadi pekerja di kebun apel itu selama 10 tahun. Setelah selesai penebusan kerjaselama 10 tahun, diapamit kepada pemilik pohon apel itu. “Saya telah melaksanakan hukuman, halalkan apel yang telanjur saya gigit 10 tahun yang lalu.

Kini saya mau pulang,” kata sang Sayyid.Tapi sang pemilik pohon apel menjawab, “Saya belum bisa mengikhlaskan apel yang kamu makan tanpa izin saya. Kamu harus bekerja lagi selama dua tahun di kebun apel itu.”Karena ingin darahnya bersih dari makanan yang tidak halal,Sayyid Sholeh bersedia bekerja lagi selama dua tahun di kebun apel.

Setelah lewat dua tahun, artinya sesudah bekerja di kebun apel selama 12 tahun,kembali sang Sayyid minta pamit dan minta agar apel yang telanjur dimakannya dihalalkan. Tapi pemilik kebun apel itu lagi-lagi menjawab, “Apel yang telanjur kamu makan akan saya halalkan kalau kamu mau menikahi putri saya.Putri saya itu keadaannya buta dan tuli.” Lagi-lagi, demi menjaga darahnya dari makanan yang tidak bersih, Sayyid Sholeh bersedia mengawini putri yang,katanya,buta dan tuli itu.

Namun, subhanallah, putri yang katanya buta dan tuli itu adalah putri yang sangat cantik jelita, tidak buta dan tidak tuli. Namanya Sayyidah Ummul Khair Fathimah.“Ummul Khair itu buta dari hal-hal yang jelek dan tuli karena tidak mau mendengar dan ngomongin kejelekan orang. Dia sama dengan kamu, tak pernah makan dari makanan yang haram sedikit pun,” kata pemilik kebun apel itu kepada Sayyid Sholeh. Menikahlah Sayyid Sholeh dengan Sayyidah Ummul Khair Fathimah.

Dari pernikahan keduanya lahirlah Syech Abdul Qodir Jailani yang sangat terkenal sebagai sufi, peletak dasar-dasar dan pengembang ilmu tasawuf yang karya-karyanya sangat banyak dan selalu dibaca orang sampai sekarang dengan pengikut puluhan bahkan ratusan juta orang.Dari makanan yang bersih dan tidak subhat itulah lahir manusia yang begitu luar biasa kecerdasan dan kesalehannya. Mumpung ini bulan puasa, mari kita jaga diri kita dari makanan dan perbuatan yang haram. Kata Nabi Muhammad Rasulullah,“Bagi apa pun yang tumbuh dari yang haram itu, maka neraka (siksaan) berhak atasnya,maanabataminharaam fan naaru ahaqqu bihi.

” Kalau Anda kotori darah Anda atau keluarga Andadenganyangharam, maka panas neraka, siksaan lahir dan batin akan menimpa Anda dan keluarga. Neraka tidak hanya di akhirat,tetapi juga serangan panas di dunia. Pokoknya, yang haram itu pasti membuat panas dan tak nyaman.Cobalah Anda makan barang haram semisal hasil korupsi, sekecil apa pun,maka hidup Anda akan panas,tersiksa, dan selalu dihantui oleh ketakutan dan kegelisahan. Kalau rumah Anda dibangun dengan barang haram, rumah itu tidak akan pernah nyaman untuk dihuni. Pun kalau Anda naik mobil yang diperoleh secara haram pastilah naik mobil itu juga tidak nikmat dan menggelisahkan. Selamat melanjutkan ibadah puasa.●

sumber
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Saat terakhir bersama si Anjing !

John Unger memeluk anjingnya, Schoep.

Wisbenbae - Setelah 18 tahun bersahabat, seorang pria asal Wisconsin, Amerika Serikat (AS), berusaha membuat tenang anjingnya di masa-masa akhir hidupnya. Demikian dilansir NY Daily News, pekan ini.

Foto yang memperlihatkan John Unger memeluk anjingnya, dari jenis campuran Shepherd, dalam kondisi tertidur menjadi trend di dunia maya dan memperlihatkan kedekatan antara manusia dan anjing.

Seorang fotografer profesional, Hannah Stonehouse Hudson, berhasil memotret momen indah ini di Bayfield's Reiten Beach, Lake Superior. Unger (49) memintanya untuk memotret saat-saat indah bersama anjing kesayangannya yang bernama Schoep yang kini menderita radang tulang.

Unger mengadopsi Schoep sekitar 18 tahun silam dan saat itu anjing terlantar dan sering disiksa. Ia menyatakan ia sudah lama menunggu saat-saat indah dirinya dipotret bersama anjingnya dan ketika melihat Schoep sudah pincang ia tahu hidupnya sudah tak lama lagi.

"Apa yang ada di benak saya adalah ketika Hannah memotret momen itu, mungkin itulah saat-saat terakhir saya berenang bersamanya. Unger mengatakan anjing itu bersamanya melewati masa-masa sulit termasuk ketika ia putus dengan tunangannya.

"Saya akan lakukan apapun untuk anjing ini karena ia sudah menyelamatkan hidup saya," katanya.

Jika manusia saja bs bersahabat sedekat ini dg anjing, kenapa di berbagai belahan dunia manusia msh suka berperang dg manusia yg lain? :matabelo:

Thursday, August 9, 2012

PM Turki Erdogan dan Istrinya Kunjungi Muslim Rohingya

Erdogan dan Istrinya Kunjungi Muslim Rohingya
Sebelum pemberitaan tentang aksi kekerasan terhadap etnis rohingya marak dimedia,  "manusia perahu" dari myanmar ini beberapa kali terdampar di Aceh. mereka menceritakan bahwa dinegerinya tidak aman untuk muslim, merekapun diterima dengan baik di aceh dan dilayani seperti saudara sendiri.

etnis rohingya ini dalam penampungannya di Aceh juga meminta perlindungan dari Ulama Aceh  dan baca juga cerita mereka menangis ketika akan dipindahkan dari aceh

Saljuk Ownal, jubir Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan, bahwa PM. Turki, Rajab Thayyeb Erdogan, istrinya dan Menlu Turki, Ahmad Daud Oglo akan melakukan kunjungan ke Myanmar (Burma). Kunjungan ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia terhadap tragedi kemanusiaan yang dialami Muslim Rohingya di Provinsi Arakan, Myanmar. Muslim Rohingya disebut oleh PBB sebagai minoritas yang paling teraniaya di dunia.
Ownal dalam pernyataannya di koran harian berbahasa Turki "Heeret" mengatakan, bahwa pemerintah Turki terus mengikuti perkembangan yang terjadi di Myanmar, dimana terjadi pembantaian terhadap Muslim Rohingya yang dilakukan oleh penganut agama Budha di sana.
Jubir Kemenlu Turki ini juga melaporkan bahwa dubes Turki yang ada di Myanmar dengan para diplomatnya telah lebih dulu melakukan kunjungan ke kamp pengungsian Muslim Rohingya, untuk kemudian men-support laporan kondisi terkini ke pemerintah Turki di Ankara.

Lihat yg lebih 'beriman' di sini !

Video malaikat turun di perang Suriah ?

Media mujahidin Chechnya Kavkaz Center melansir sebuah berita menarik tentang sebuah video klip yang menggambarkan sosok seorang berpakaian serba putih dari Suriah.

Video ini memperlihatkan suasana perang di Suriah yang belum lama terjadi. Saat tembakan membabi-buta menyerang kerumunan manusia, salah seorang terkena hantaman peluru dan tergeletak di tengah jalan. Orang-orang hanya bisa melihat tanpa berani keluar dari tempat persembunyian karena jalanan berada dalam incaran Alawites, sekte minoritas pendukung rezim Partai Baath yang berkuasa di Suriah.


Orang-orang berteriak, panik, dan berhamburan. Mereka tidak tahu bagaimana membantu korban yang terluka. Pada saat itu, seorang pria berpakaian serba putih muncul di latar belakang video. Dia berperilaku tenang, berjalan santai dan tidak panik seperti yang lainnya.

Tanpa mempercepat langkahnya, pria yang berpakaian putih tersebut  perlahan-lahan mendekati korban yang tergeletak dan mengangkatnya dengan santai, padahal berat korban kurang lebih 80 kg.

Dengan satu tangan dia membawa korban yang terluka ke kerumunan orang. Kemudian pria tersebut  menghilang dari video.

Seperti dilaporkan oleh kavkaz center, saksi dalam kejadian tersebut mengatakan bahwa seorang pria tak dikenal muncul secara tiba-tiba. Pria tersebut mengenakan jubah putih dan tanpa ekspresi sedikitpun meski berada dalam situasi perang, kotoran, debu, gencarnya serangan, dan kehancuran.

Lihat videonya berjudul "Angel or Hero? (Malaikat atau Pahlawan?) di bawah ini.




Sumber:
ikhwanesia

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Masjid Agung Syeikh Zayed, Luasnya 5 Kali Lapangan Bola !

Masjid Agung Syeikh Zayed

Kota Abu Dhabi di Uni Emirat Arab terkenal dengan modernitas yang berpadu dengan pesona gersang gurun pasir khas Jazirah Arab. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Abu Dhabi juga memiliki tempat-tempat ibadah mempesona.

Abu Dhabi telah mengeluarkan miliaran dolar untuk membuat museum-museum ternama dunia, seperti Guggenheim dan Louvre. Namun, permata budaya termegah Abu Dhabi sebenarnya adalah sebuah masjid di pinggir kota, Masjid Agung Syeikh Zayed.

Masjid ini dinamakan seperti nama pendiri Uni Emirat Arab, Syeikh Zayed bin Sultan bin Khalifa Al Nahyan, yang dimakamkan di samping masjid ini

Sulit memperkirakan ukuran sebenarnya masjid ini, namun tidak diragukan lagi setara dengan ukuran lima lapangan sepakbola, menjadikannya masjid terbesar di Uni Emirat Arab. Dari kejauhan, masjid ini terlihat begitu sederhana, seperti bangunan putih biasa yang muncul dari padang pasir.

Masjid ini disusun dari marmer berwarna putih susu dengan emas di atas kubahnya dan halaman marmer besar. Di malam hari, pemandangan masjid ini terlihat lebih megah daripada siangnya, 82 kubahnya menyala terang seperti puluhan bola cahaya di langit gelap.

Apabila berkunjung di luar jam peribadatan, Anda dapat memasuki masjid ini secara gratis. Pengunjung wanita diharuskan memakai abaya tradisional (jubah hitam longgar yang menutupi tubuh dan rambut) saat memasuki kawasan masjid.

Pemandu yang merupakan ahli masjid akan membawa Anda berkeliling dan menunjukkan ruang doa. Pemandu ini juga akan menjelaskan seputar Islam dan Uni Emirat Arab.

Masjid ini dilengkapi karpet buatan tangan terbesar di dunia yang ditenun 1.200 pengrajin Iran. Dengan 2.268.000 jahitan, karpet ini bernilai USD 8,2 juta. Pesona kemewahan dan kemegahannya bagaikan permata di tengah gersangnya padang pasir Abu Dhabi.

Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed


Masjid Agung Syeikh Zayed

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Sayang Nenek, Anak 11 Tahun Jalan Kaki 11 Hari di Jalan Tol

Seorang anak 11 tahun hanya bermodal 24 yuan  berjalan kaki selama 11 hari sepanjang 150 km di atas jalan tol.

Wu, demikian namanya. Ia tinggal di rumah neneknya di propinsi Jianxi. Orang tuanya bekerja di kota Shishi, propinsi Fujian.


Awal Juali 2012, Wu dibawa untuk tinggal bersama orang tuanya di Shishi. Namun ia tak kerasan tinggal bersama ayah-ibunya, kerana sang ayah terlalu membebani dengan banyak pekerjaan rumah.

Akhirnya, tanggal 14 Julai Wu mengambil wang 4 yuan dari dalam laci dan meninggalkan rumah. Tujuannya hanya satu, kembali ke rumah nenek.

Setelah keluar rumah, ia bingung tak tahu cara melaksanakan keinginannya. Maka Wu memutuskan berjalan di jalan tol, yang ia percaya itu satu-satunya jalan menuju rumah nenek. Yang penting ia harus berjalan secepat mungkin menuju propinsi Jiangxi agar cepat sampai.

Saat malam tiba, ia tidur di area parking kecemasan (semacam tempat istirehat / rest area).

Ia sempat bingung. Wang di koceknya hanya 4 yuan, mana cukup untuk membeli makan dan minum? Untunglah di hari pertama perjalanannya, Wu bertemu orang yang mahu memberinya sedekah sebanyak 20 yuan.
Selama 11 hari perjalanan, Wu hanya boleh membeli 5 botol air mineral dan 2 potong roti. Saat bekal minumannya habis, ia terpaksa meminum air yang ada di rest area.

Pada tanggal 24 Julai, seorang pekerja jalan tol melihatnya. Tubuh Wu sudah hitam, berdebu, dan penuh memar. Anak ini pun segera diserahkan kepada polis setempat.

Kepada polis, Wu menceritakan semuanya.

"Awalnya saya sangat takut kerana kereta laju lal di depan saya, tapi akhirnya saya jadi terbiasa," katanya kepada polis.

Akhirnya Wu dijemput orang tuanya di balai polis
, kemudian dibawa ke rumah sakit.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Wednesday, August 8, 2012

Menyulap Lumpur Lapindo Jadi Baterai...

[imagetag]

Sebuah bencana ternyata bisa menjadi berkah bagi yang mau berupaya. Seperti yang dilakukan sekawan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) diantaranya, Aji Christian Bani Adam (FMIPA-Kimia), Umarudin (FMIPA-Biologi), Oki Prisnawan Dani (Fakultas Ekonomi), dan Yoga Pratama (Fakultas Ilmu Keolahragaan).

Mereka menyulap bencana lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo Jawa Timur menjadi peluang berinovasi sekaligus turut membantu warga di kawasan tersebut. Yakni dengan memanfaatkan lumpur disana untuk membuat baterai bernama LUSI Cell Battery. Adapun nama LUSI sendiri merupakan kepanjangan dari Lumpur Sidoarjo.

Aji mengatakan, tingkat salinitas lumpur yang cukup tinggi yakni mencapai 40% menjadi alasan untuk membuat baterai. Apalagi didukung dengan kandungan logam akibat pengeboran, misalnya lantanida, merkuri, timbal, mangan, seng, natrium dan lainnya.

"Logam yang dikandung dalam lumpur lapindo Sidoarjo ini merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam baterai," ungkapnya.

Mereka berempat melakukan observasi selama tujuh bulan sejak Desember 2011, dan penemuan itu diikutsertakan dalam kompetisi Technopreneurship yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi di Graha Widya Puspiptek Serpong, 9-21 Juli lalu. Dan kerja keras itu pun menuai hasil dengan meraih Juara II pada lomba tersebut.

Sementara itu, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unnes Prof Masrukhi mengaku, bangga dengan prestasi yang ditorehkan para mahasiswanya tersebut. Masrukhi juga berharap, apa yang sudah dicapai oleh Aji dan kawan-kawan tersebut dapat menjadi pemicu bagi mahasiswa lainnya di Unnes untuk berkreasi sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.

"Jika penemuan tersebut dapat dikembangkan lebih jauh, dan dapat diproduksi secara masal oleh investor maka akan sangat berguna kedepannya. Saya juga bangga dengan sistem pemasarannya yang turut memikirkan nasib korban lumpur dengan menyumbang satu kilogram beras dalam setiap penjualan baterai," tandasnya.


Salah faham tentang Qadha & Qadar

Salah satu masalah dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, adalah adanya perbedaan pemahaman yang seharusnya kita tangkap secara obyektif dari apa yang kita dengar atau kita baca, dengan pemahaman kita sebelumnya tentang hal tersebut, sehingga tidak jarang ada seseorang, misalkan si B menyatakan bahwa si A memiliki pemahaman “x” dari apa yang si B baca atau dengar dari si A, padahal kesimpulan “x” tersebut sebenarnya bukanlah pemahaman si A, namun kesimpulan si B atas si A dari metode penarikan kesimpulan si B sendiri. Banyak hal yang mempengaruhi kenapa pemahaman seseorang bisa berbeda padahal yang dibaca/didengar objeknya sama. Diantaranya adalah:

1) Keluasan pemahaman pembaca yang berbeda-beda tingkatnya.

2) Kemampuan mengaitkan dan menggabungkan berbagai macam informasi, serta alur berpikir dalam penarikan kesimpulan.

3) Adanya persepsi awal yg sangat dominan terhadap sesuatu yg dibaca/didengar (bisa negatif bisa positif).

4) Kemampuan pembaca untuk memilah tema (semesta pembicaraan) apa sebenarnya yang dibaca/didengar, sehingga tidak jarang bisa terjadi dua hal yang terkesan bertentangan padahal itu menyangkut dua tema yang berbeda.

5) Keseriusan, kecermatan dan kecepatan berfikir yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, ketika seorang wanita mengadukan kepada ‘Umar bin Khattab r.a perihal suaminya yang shalat tahajjud sepanjang malam dan puasa siang harinya, ‘Umar, walapuan sangat cerdas, namun karena kurang cermat, beliau malah memuji suami wanita tersebut, hingga ada shahabat  lain yang menyampaikan bahwa wanita tersebut bukan sedang memuji suaminya, namun sedang mengadukan suaminya yang tidak memberikan “nafkah” kepadanya. Tulisan berikut dan setelahnya memberikan beberapa contoh kesalahpahaman dalam membaca beberapa kitab karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, namun sayangnya kesalahpahaman (bahasa kasarnya fitnah) ini banyak dicopy paste para blogger, termasuk yang mengatasnamakan suatu pesantren atau kelompok Islam, sehingga memang perlu diluruskan.

Penulis buku al-Gharrah al-Imaniyah, ketika membantah pandangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz I tentang qadha’ dan qadar, ketika menyatakan:

وهذه الأفعال، أي أفعال الإنسان، لا دخل لها بالقضاء ولادخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره وعلى ذلك فإن الأفعال الإختيارية لاتدخل تحت القضاء

Perbuatan-perbuatan ini —maksudnya perbuatan manusia— tidak termasuk dalam kategori qadha’, dan qadha’ pun tidak mempunyai ruang di sana, karena manusialah yang melakukannya dengan kehendak dan pilihannya. Karena itu, perbuatan yang bisa dipilih tidak termasuk dalam wilayah qadha’. ang diikuti dengan kutipan berikutnya dari kitab Nidzam al-Islam, yang menyatakan:

فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدي والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل العبد وليسا من الله

Maka, dikaitkannya pahala dan dosa dengan petunjuk dan kesesatan, membuktikan bahwa petunjuk dan kesesatan tersebut merupakan buah dari perbuatan manusia, bukan dari Allah, dengan menyatakan:

الرد: هذا الكلام مخالف للقرآن والحديث وصريح العقل، إلخ

Sanggahan: Peryataan ini bertentangan dengan al-Qur’an, al-Hadits dan logika yang jelas, dan seterusnya

Penjelasan:
Pertama, dari aspek penukilan, sengaja atau tidak, penulis buku tersebut hanya mengutip sebagian dari penjelasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kemudian langsung memvonis sesat dan seolah-olah beliau berpandangan seperti Mu’tazilah. Padahal, konteks kalimat tersebut tidak dapat dipisahkan dari kalimat sebelum dan setelahnya, yang secara utuh justru memberikan pemahaman yang jernih dan cemerlang tentang qadha’ dan qadar, demikian halnya dengan hidayah dan dhalalah.

Kedua, dari aspek kesalahan penulis buku al-Gharrah dalam menjelaskan masalah qadha’ dan qadar, yang justru mencampuradukkan dengan masalah qadar. Dia dan para pengikutnya tidak bisa membedakan antara qadar, yang berupa ilmu Allah yang bersifat azali dan bahwasanya segala sesuatu itu telah tertulis di Lauh al-Mahfuzh dan bahwa kewajiban seorang Muslim adalah mengimani qadar, baik buruknya dari Allah Swt. Mereka tidak membedakan lagi antara (qadar) ini dengan istilah qadha’ dan qadar yang telah diterjemahkan dari filsafat Yunani; yang dalam istilah Yunani terkait dengan perbuatan dan karakteristik sesuatu (benda); yang tidak ada kaitannya dengan manusia, karena ia bersifat (jabran) memaksa. Karena itu, perbuatan yang bersifat paksaan dan karakteristik benda tersebut tidak ada hubungannya dengan manusia. Manusia juga tidak akan ditanya tentang perkara tersebut. Itu juga bukanlah topik yang menyangkut ganjaran (pahala) dan siksaan. Itu adalah fenomena yang ada pada wilayah qadha’ dan qadar menurut terminologi istilah. Adapun ganjaran dan siksa yang menimpa manusia, itu karena perbuatan-perbuatannya yang dijalankan berdasarkan pilihannya. Jika manusia mendapatkan petunjuk untuk beriman, maka ia memperoleh keridhaan Allah dan mendapatkan pahala. Namun jika manusia itu tersesat dan memilih kekufuran, dia mendapatkan murka dan sanksi dari Allah. Perbuatan-perbuatan yang bersifat pilihan, maupun yang bersifat paksaan, serta sifat-sifat khas pada benda dan segala sesuatu, semuanya itu tidak keluar dari qadar Allah; sebab qadar itu adalah ilmu Allah dan (seluruhnya) tertulis di Lauh al-Mahfuzh yang mencakup segala sesuatu.

Ini jelas berbeda dengan istilah qadha’ dan qadar yang diterjemahkan pada masa Abbasiyah dan yang terkait dengan perbuatan-perbuatan paksaan (af’âl jabariyah), juga dengan sifat-sifat khas pada benda. Begitu pula mereka mencampuradukkan antara pelaksanaan perbuatan dengan penciptaannya. Sebagian mereka mengatakan bahwa siapa saja yang mengatakan seseorang yang menjalankan perbuatannya berdasarkan pilihannya, berarti orang itu telah menciptakan perbuatannya sendiri. Padahal tidak ada seorang Muslim pun yang mengatakan, bahwa dia menciptakan sesuatu. Allah Swt-lah satu-satunya yang menciptakan sesuatu dan mewujudkannya dari (sebelumnya) tidak ada. Ini berbeda dengan orang yang menjalankan perbuatan apapun berdasarkan pilihannya, seperti memperoleh petunjuk atau kesesatan. Karena itu, mereka mencampuradukkan antara penciptaan perbuatan dengan pelaksanaan perbuatan, lalu masyarakat menyibukkan diri dengan perkara yang di masa Rasulullah saw sendiri tidak pernah bergolak, bahkan di masa sahabat sekalipun. Mereka mengacaukan benak banyak orang dan menyibukkan diri pada masalah yang sebenarnya telah berakhir sejak ratusan tahun yang lalu.

Cukuplah kiranya seorang Muslim mengetahui dua perkara penting, yaitu: mengetahui bahwa qadar adalah ilmu Allah seraya beriman tentang baik dan buruknya, kemudian mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan yang dalam lingkup pilihannya sendiri (af’âl ikhtiyariyah) itulah yang menjadi topik (diperolehnya) ganjaran pahala atau dosa; dan perbuatan-perbuatan yang tidak tercakup pada perbuatan pilihan (af’âl ikhtiyariyah) tidak akan dihisab oleh Allah. Sedangkan istilah qadha’ dan qadar itu berkaitan dengan perbuatan yang tercakup dalam perbuatan yang dipaksa (af’al jabariyyah), serta menyangkut sifat-sifat khas pada benda yang tidak ada kaitannya dengan manusia, dan manusia tidak akan ditanya tentang perkara-perkara tersebut, bahkan tidak ada kaitannya dengan masalah ganjaran dan sanksi.

Sumber: Bantahan Terhadap Kitab Al Gharral Al Imaniyyah

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Anak ini kakinya ada lima, kasihan !

Seorang bocah bernama Kumar Paswan dari sebuah desa terpencil di India yang memiliki kondisi medis yang menakjubkan (menurut ane sih mengkhawatirkan). Ia dilahirkan dengan kembar parasit. Kembarannya berhenti berkembang di rahim sebelum dipisahkan sepenuhnya dari Kumar dan telah meninggalkan dia dengan tujuh anggota badan. Dia telah memohon ribuan pound ke para dermawan di india untuk biaya operasi menghilangkan 5 kaki lainnya. Foto-foto ini diambil pada bulan April 2011.







Komputer Islam pada Abad Pertengahan

Bangsa-bangsa Islam di abad pertengahan ternyata sudah punya "komputer ajaib" yang bisa membantu mengetahui waktu dan posisi benda-benda di angkasa, membantu dalam pelayaran, mempertahakan keakuratan kalender, memperkirakan gerhana, bahkan mengukur bumi.

Komputer ini umumnya tidak besar, bentuknya bundar seperti jam saku dengan diameter 15 cm saja (ada beberapa yang dibuat dalam skala besar). Astrolab, demikian namanya.

Astrolab / nicolas.brodu.numerimoire.net
Astrolab merupakan peranti astronomi yang paling penting sebelum era teleskop muncul. Ilmuwan abad pertengahan di Timur Tengah, khususnya bangsa Islam telah menggunakan alat ini untuk berbagai hal, seperti tertulis di awal artikel.

Astrolab secara prinsip sebenarnya sudah ada sejak sekitar 150 SM. Namun, bentuk fisiknya baru muncul kira-kira 400 M. Alat ini menjadi bagian penting di periode Islam sejak tahun 800 M.

Astrolab terdiri dari sebuah model langit yang tertera pada lempeng logam melingkar.  Di sekliling lingkar luar lempeng logam itu terukir skala derajat, atau kadang penanda waktu. Jarum penunjuk yang bisa diputar (alidad) digunakan untuk menentukan ketinggian suatu bintang ketika peranti ini diangkat setinggi lengan yang teracung. Hasilnya kemudian terbaca pada ukuran berskala.
republika.co.id


Dengan astrolab ini, penggunannya juga bisa mengenali bintang-bintang, memprediksi kapan matahari terbit dan tenggelam setiap hari, menentukan jarak ke Mekah, menyurvei tanah, menghitung tinggi objek, hingga.... berlayar!

Tak heran, bangsa-bangsa Islam masa itu menjadi petualang tangguh baik di darat atau laut. Lewat merekalah, akhirnya astrolab diperkenalkan kepada bangsa Eropa melalui Spanyol (Moor).

Meskipun bangsa Yunani dulu sudah meyakini bentuk bumi adalah bulat, entah mengapa pada perkembangannya bangsa-bangsa di Eropa lebih menerima pendapat soal bumi yang datar. Mata mereka mulai terbuka setelah Copernicus dan Galileo-Galilei memberi pembuktian soal bumi bulat.

Padahal dalam Perjanjian Lama, kitab suci umat Kristen sendiri sudah menulis tentang bumi itu bulat. Demikian juga Quran meyakini bentuk bumi pun bulat.

Ilmuwan-ilmuwan muslim membukitkan iman mereka dengan penyelidikan lanjut, diantaranya melalui astrolab ini.

Sekitar abad 9 M, saat bangsa Islam menguasai separuh dunia, naskah-naskah ilmiah seperti karya astronom Yunani Ptolemeus diterjemahkan ke bahasa Arab. Dinasti Abbasiyah juga mendapatkan naskah-naskah Sansekerta yang kaya akan informasi tentang matematika, astronomi, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Observatorium juga banyak dibangun di kota-kota tempat peradaban Islam berada. Di tempat ini, para ilmuwan memiliki berbagai alat paling canggih masa itu seperti astrolab, kuadran, sekstan, dan  jam matahari.

Penetapan Mekah sebagai kiblat mendorong cendikiawan Muslim mempelajari ilmu falak. Sejak abad 13, banyak masjid dibangun memperkerjakan seorang astronom profesional (muwaqqit) sehingga bisa menentukan arah kiblat secara tepat. Lagi-lagi, komputer saku astrolab jadi panduan utama.
yolanitaseptiana.blogspot.com

Tidak itu saja, ilmuwan Muslim bisa menentukan tanggal dan hari-hari raya untuk ibadah berdasar pengamatan pada peredaran bulan dan matahari, dan mereka juga bisa membantu orang yang akan naik haji merencanakan rute perjalanan paling efisien ke Mekah.
Ini satu contoh ilmu mutakhir yang hingga kini diakui kebenarannya: 

Tahun 1031, Abu Raihan al-Biruni sudah menyebutkan kemungkinan bahwa planet-planet berotasi mengikuti orbit yang elips, bukan bulat.
Mengukur Bumi

Ekspansi Islam ke berbagai belahan bumi menciptakan pembuatan peta bumi ini, termasuk pembuatan globe. Para pembuat peta berupaya keras melakukan pengukuran yang akurat.

Khalifah al-Makmun pernah mengutus dua tim survei ke Gurun Siria dilengkapi astrolab serta tongkat dan tali pengukur. Dua tim tersebut berjalan berlawan arah hingga mereka mengamati satu derajat perubahan ketinggian Bintang Utara. Hasil perhitungan mereka menunjukkan bahwa jarak yang mereka tempuh sama dengan satu derajat garis Lintang, atau 1/360 keliling bumi.

Monumen astrolab di Dubai / sciencephoto.com


Jadi, setelah dikalkulasi, keliling bumi dari kutub ke kutub adalah 37,369 kiometer. Perhitungan ini sangat mendekati dengan hasil teknologi modern jaman sekarang, yakni 40,008 kilometer!

Maka kesimpulannya, tak menutup kemungkinan bila peradaban bangsa Islam saat jaya dulu menyebar hingga ke ujung-ujung bumi, dan bahkan (boleh jadi) sampai ke Amerika.


Sumber:
Awake! Magazine
astrolabes

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Misteri Angka 19 Dalam Al Qur’an

Setiap muslim pasti meyakini kebenaran Quran sebagai kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Namun kemukjizatan Quran tidak hanya dibuktikan lewat kesempurnaan kandungan, keindahan bahasa, ataupun kebenaran ilmiah yang sering mengejutkan para ahli.


Suatu kode matematik yang terkandung di dalamnya misalnya, tak terungkap selama berabad-abad lamanya sampai seorang sarjana dari Mesir bernama Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan tersebut. Hasil penelitiannya yang dilakukan selama bertahun-tahun dengan bantuan komputer ternyata sangat mencengangkan. Betapa tidak, ternyata didapati bukti-bukti surat-surat atau ayat-ayat dalam Quran serba berkelipatan angka 19.

Penemuannya tersebut berkat penafsirannya pada Al Qur'an surat Al Muddatstsir ayat : 30-31, yang artinya :

"Di atasnya ada sembilanbelas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu'min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan) : "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia ". (Qs. Al Muddatstsir : 30- 31)

Hasil penemuannya yang sangat mengejutkan ini pada tahun 1976 telah didemonstrasikan di depan umum ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London. Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut :

1. Kita mengetahui bahwa setiap surat-surat dalam Quran selalu diawali dengan bacaan 'Basmalah' sebagai statement pembuka, yaitu "Bismillaahirrahmaanirraahiim" (yang artinya : "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"). Ternyata bacaan 'Basmalah' tersebut (dalam bahasa Arabnya) terdiri dari 19 huruf (atau 19 X1).

2. Bacaan 'Basmalah' terdiri dari kelompok kata : Ismi – Allah – Arrahman – Arrahim. Penelitian menunjukkan jumlah dari masing-masing kata tersebut dalam Quran ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.

Jumlah kata 'Ismi' dalam Quran ditemukan sebanyak 19 buah (atau 19 X 1)
Jumlah kata 'Allah' dalam Quran ditemukan sebanyak 2.698 buah (atau 19 X 142)
Jumlah kata 'Arrahman' dalam Quran ditemukan sebanyak 57 buah (atau 19 X 3)
Jumlah kata 'Arrahim' dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6)
3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Quran sebanyak 114 surat (atau 19 X 6).

4. Bacaan 'Basmalah' dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6), dengan perincian sbb. :

Sebanyak 113 buah ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9, sedangkan sebuah lagi ditemukan di surat ke-27 ayat : 30.

Berbeda dengan surat-surat lain, surat ke-9 memang khusus sengaja tidak diawali bacaan 'Basmalah' karena isinya merupakan ayat-ayat perang.

Pada surat ke-27 ayat : 30 tempat ditemukannya bacaan 'Basmalah', dan kalau bilangan surat dan ayatnya dijumlahkan hasilnya merupakan kelipatan angka 19, yaitu 27 + 30 = 57 (atau 19 X 3 ).

5. Dari point 4 di atas, ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dan ke-27. Surat ke-27 ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9. Surat ke : 9, 10, 11, …, 25, 26, 27 urutan surat ke : 1, 2, 3, …, 17, 18, 19.

6. Dari point 5, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-9 sd. ke-27, (9+10+11+…+25+26+27) maka hasilnya adalah 342 (atau 19 X 18).

7. Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat : 1-5) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1) dan 76 huruf (atau 19 X 4).

8. Wahyu kedua (Surat ke-68 ayat : 1-9) terdiri dari 38 kata (atau 19 X 2).

9. Wahyu ketiga (Surat ke-73 ayat : 1-10) terdiri dari 57 kata (atau 19 X 3).

10. Wahyu terakhir (Surat ke-110) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1), dan ayat pertama dari Surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (19 X 1).

11. Wahyu yang pertama kali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (Surat ke- 112).

12. Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (atau 19X1) dan 304 huruf (atau 19 X 16). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat yang ke-19 bila diurut / dihitung mundur dari belakang Quran. surat ke : 114, 113, 112, …, 98, 97, 96 urutan surat ke : 1, 2, 3, …, 17, 18, 19.

13. Dari point 12, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-114 sd. ke-96, (114+113+112+…+98+97+96) maka hasilnya adalah 1995 (atau 19 X 105).

14. Penulis juga menemukan bahwa surat-surat yang memiliki 8 (delapan) ayat dan 11 (sebelas) ayat-lah yang paling banyak terdapat dalam Quran, yakni masing-masing terdiri dari 5 (lima) buah surat. Disusul kemudian surat-surat yang memiliki 3 (tiga), 19 (sembilan belas), 29 (dua puluh sembilan), 30 (tigapuluh), dan 52 (lima puluh dua) ayat, yang masing-masing terdiri dari 3 (tiga) buah surat. Apabila dijumlahkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan kelompoknya maka hasilnya merupakan kelipatan angka 19, yaitu sebagai berikut:

Surat ke : 94, 95, 98, 99, 102 masing-masing terdiri : 8 ayat;
Surat ke : 62, 63, 93, 100,101 masing-masing terdiri : 11 ayat.
Apabila jumlah ayat-ayat dijumlahkan : 8+11 = 19, (19 X 1)
Surat ke : 103, 108, 110 masing-masing terdiri : 3 ayat
Surat ke : 82, 87, 96 masing-masing terdiri : 19 ayat
Surat ke : 48, 57, 81 masing-masing terdiri : 29 ayat
Surat ke : 32, 67, 89 masing-masing terdiri : 30 ayat
Surat ke : 14, 68, 69 masing-masing terdiri : 52 ayat
* Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 3 + 19 + 29 + 30 + 52 = 133, (atau 19 X 7).
15. Quran merupakan satu-satunya kitab suci di dunia ini yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut dalam bahasa Arab "Muqatta-'aat" yang artinya "kata singkatan".

16. Di dalam Quran terdapat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14 (empat belas) macam kombinasi dari 14 (empatbelas) huruf-huruf "Muqatta-'aat". 14 huruf-huruf itu adalah : alif, lam, mim, ra', kaf, ha', yaa', ain, shad, tha', shin, qaf, nun, dan kha'.

17. 29 surat itu adalah surat ke : 2, 3, 7, 10 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, dan 68. Maka apabila bilangan dari banyaknya huruf, banyaknya kombinasi, dan banyaknya surat dijumlahkan maka hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 14 + 14 + 29 = 57 (atau 19 X 3).

18. Tanda-tanda dengan kata singkatan ini, ahli tafsir mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat 'mutasyaabihaat', ada pula yang berpendapat huruf-huruf abjad itu berfungsi untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan bacaan-bacaan dalam Quran. Namun berkat penemuan angka 19 kini terbukalah maksud sesungguhnya dari adanya huruf-huruf "Muqatta-'aat" tersebut, yaitu berfungsi sebagai penjaga keaslian / keautentikan Quran karena berhubungan dengan angka 19.

19. Surat ke-68 diawali huruf 'Nun'. Setelah diteliti jumlah huruf 'Nun' yang terdapat pada surat tersebut (133 = 19 X 7) merupakan kelipatan 19. Berikut terjemahan surat ke-68 ayat 2-6 : "Nun. Berkat kemuliaan Tuhanmu, engkau (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala yang besar, dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur, maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila."

20. Surat ke-42 dan surat ke-50 diawali huruf 'Qof'. Setelah diteliti huruf 'Qof' yang terdapat pada kedua surat tersebut sebanyak 114 huruf (57 + 57 = 114 = 19 X 6). Ada yang berpendapat bahwa huruf 'Qaf' ini singkatan dari kata 'Quran' karena Quran terdiri dari 114 surat. Hal lain yang mengherankan adalah Allah biasanya menyebut kaumnya Nabi Luth dengan kalimat "Qaumu Luuth" yang ditemukan sebanyak 12 kali dalam Quran, namun pada surat ke-50 ayat 13, sebutan tersebut berganti menjadi "Ikhwanu Luuth" yang artinya "saudara-saudaranya Nabi Luuth". Tampaknya Allah sengaja menghilangkan unsur 'Qaf' dalam kalimat tersebut agar jumlah huruf 'Qaf' dalam Quran tetap berkelipatan 19, sebab jika tidak diganti maka jumlahnya bertambah menjadi 115. Berikut terjemahan surat ke-50 ayat : 1-2 : "Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia, mereka tercengang lantaran datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir : "Ini sesuatu perkara yang amat aneh"."

21. Surat ke-42 diawali huruf 'Ain', 'Sin', dan 'Qof'. Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut pada surat ke-42 (98 + 54 + 57 = 209 = 19 X 11) merupakan kelipatan 19.

22. Surat ke-36 diawali huruf 'Ya', dan 'Sin'. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat ke-36 (237 + 48 = 285 = 19 X 15) merupakan kelipatan 19.

23. Surat ke-13 diawali huruf 'Alif', 'Lam', 'Mim', dan 'Ro'. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-13 (605 + 480 + 260 +137 = 1482 = 19 X 78) merupakan kelipatan 19.

24. Surat ke-7 diawali huruf 'Alif', 'Lam', 'Mim', dan 'Shod'. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-7 (2529 + 1530 + 1164 + 97 = 5320 = 19 X 280) merupakan kelipatan 19.

25. Surat ke-19 diawali huruf 'Kaf', 'Kha', 'Ya', Ain, dan 'Shod'. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-19 (137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798 = 19 X 42) merupakan kelipatan 19.

26. Surat ke-7, 19, dan 38 diawali huruf 'Shod'. Total jumlah huruf 'Shod' dalam ketiga surat tersebut (97 + 26 + 29 = 152 = 19 X 8 ) ternyata merupakan kelipatan 19.

Ada hal yang menarik, yakni pada surat ke-7 ayat 69 ditemukan kata 'basthatan' (jika dieja terdiri dari huruf ba', shod, tho', ta'). Padahal lazimnya kata tersebut haruslah dieja dengan huruf ba', sin, tho', ta' (contohnya pada surat ke-2 ayat 247). Menurut riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril menyuruh Nabi Muhammad menuliskan kata 'basthatan' dengan huruf shod, namun unsur huruf 'shod' itu tetap harus dibaca sebagai huruf 'sin', dan hal ini ditandai dengan huruf sin tersebut ditempatkan sebagai huruf kecil di atas huruf 'shod'. Tampak sekali bahwa Allah memberi tambahan huruf 'shod' agar jumlahnya dalam Quran menjadi berkelipatan 19, sebab jika tidak maka jumlahnya berkurang menjadi 151. Berikut terjemahan surat ke-7 ayat 69 : "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran ketika datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu ? Dan ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai angkatan pengganti sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah 'melebihkan' kekuatan tubuh dan perawakanmu."

27. Surat ke-40 s/d ke-46 diawali huruf 'Ha' dan Mim. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke-40 64 380
Surat ke-41 48 276
Surat ke-42 53 300
Surat ke-43 44 324
Surat ke-44 16 150
Surat ke-45 31 200
Surat ke-46 36 225 +92 + 1855 = 2147 (atau 19 X 113 )
28. Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali huruf 'Alif', 'Lam', dan 'Ro'. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke-10 1319 + 913 + 257 = 2489 19 X 131
Surat ke-11 1370 + 794 + 325 = 2489 19 X 131
Surat ke-12 1306 + 812 + 257 = 2375 19 X 125
Surat ke-14 585 + 452 + 160 = 1197 19 X 63
Surat ke-15 493 + 323 + 96 = 912 19 X 48
29. Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf 'Alif', 'Lam', dan 'Mim'. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke-2 4502 + 3202 + 2195 = 9899 19 X 521
Surat ke-3 2521 + 1892 + 1249 = 5662 19 X 298
Surat ke-29 774 + 554 + 344 = 1672 19 X 88
Surat ke-30 544 + 393 + 317 = 1254 19 X 66
Surat ke-31 347 + 297 + 173 = 817 19 X 43
Surat ke-32 257+ 155 + 158 = 570 19 X 30

Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematik dikenal sebagai salah satu 'bilangan prima' yakni bilangan yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut menunjukkan salah satu sifat Allah yakni 'Maha Esa'. Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, dimana angka 1 merupakan bilangan pokok pertama dan angka 9 merupakan bilangan pokok terakhir dalam sistem perhitungan kita. Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah yakni Maha Awal dan Maha Akhir (Surat ke-57 ayat).

Bahwa angka 19 adalah kode matematik yang melatar belakangi komposisi literer Quran, suatu fenomena unik yang tiada duanya yang sekaligus membuktikan bahwa Quran adalah wahyu Illahi, bukan karya manusia. Otak manusia tidak akan mampu mencipta karya literer yang tunduk pada suatu kode matematik yang sekaligus membawa tema utamanya. Apalagi mengingat turunnya wahyu secara berangsur-angsur, dengan bahagian-bahagian surat yang acak tidak berurutan, disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa yang melatar belakanginya.

Selanjutnya angka 19 dapat berfungsi sebagai pemeliharaan keutuhan Quran. Angka 19 dapat digunakan untuk mencek apakah dalam sebuah kitab Quran terdapat suatu kesalahan atau tidak, dengan cara menghitung kata-kata krusial yang jumlahnya dalam Quran multiplikatif dengan angka 19, kemudian membagi angka hasil hitungan dengan 19, maka akan terlacaklah ada atau tidaknya suatu kesalahan.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Tuesday, August 7, 2012

Warisan Dinasti Mamluk


Sistem pemerintahan oligarki militer yang diterapkan oleh Dinasti Mamluk banyak mendatangkan kemajuan di wilayah kekuasaan mereka.

Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam berbagai bidang, seperti militer, perekonomian, ilmu pengetahuan, seni, dan arsitektur.


{AF}
Militer
Pada era Dinasti Mamluk, produksi buku mengenai ilmu kemiliteran mengalami perkembangan pesat. Meski jauh sebelumnya, kaum Muslim sebenarnya sudah menulis berbagai karya mengenai perang serta pengenalan terhadap seluk-beluk kuda, panahan, dan taktik militer.

Salah satu buku mengenai militer yang terkenal dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “The Catalogue” karya Ibnu Al-Nadim (990-998 M).

Dalam karya itu, Al-Nadim menulis berbagai kategori mengenai cara menunggang kuda, menggunakan senjata, bagaimana menyusun pasukan, cara berperang, dan menggunakan alat-alat persenjataan yang saat itu telah dipakai oleh semua bangsa.

Karya semacam ini pun kemudian banyak muncul dan disusun pada masa Khalifah Abbasiyah. Bahkan, pada periode kekuasaan Dinasti Mamluk, produksi buku mengenai ilmu militer itu berkembag sangat pesat.

Minat para penulis pada periode ini semakin terpacu dengan keinginan mereka untuk mempersembahkan sebuah karya kepada para sultan yang menjadi penguasa saat itu. Pembahasan yang sering diulas dalam karya-karya tersebut adalah seluk-beluk yang berkaitan dengaan serangan bangsa Mongol.

Pada awal kekuasaan Dinasti Mamluk, ada sebuah buku manual militer yang disusun oleh At-Tharsusi sekitar tahun 1174 M. Buku ini membahas keberhasilan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam memenangkan perang melawan bala tentara Salib dan menaklukkan Yerussalem.
Buku ini ditulis dengan bahasa Arab meski sang penulisnya orang Armenia. Manual yang ditulisnya, selain berisi tentang penggunaan panah, juga membahas ‘mesin-mesin perang’ saat itu, seperti mangonel (pelempar batu), alat pendobrak, menara-menara pengintai, penempatan pasukan di medang perang, dan cara membuat baju besi. Buku ini juga dilengkapi dengan keterangan praktis bagaimana senjata itu digunakan.

Buku lain yang membahas militer adalah karya yang ditulis oleh Ali ibnu Abu Bakar Al-Harawi (wafat 1214 M). Buku ini membahas secara detail taktik perang, organisasi militer, tata cara pengepungan, dan formasi tempur.

Kalangan ahli militer di Barat menyebut buku ini sebagai sebuah penelitian yang lengkap tentang pasukan Muslim di medan tempur dan dalam pengepungan.

Pada lingkungan militer Dinasti Mamluk, sejumlah karya tentang militer, khususnya yang mengulas keahlian menunggang kuda atau fu'usiyyah, banyak ditulis.

Dalam buku-buku semacam ini, dibahas mengenai bagaimana cara seorang calon ksatria melatih diri dan kuda untuk berperang, cara menggunakan senjatanya, dan bagaimana mengatur pasukan berkuda atau kavaleri.

Contoh buku yang lain adalah karya Al-Aqsara'i (wafat 1348 M) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “An End to Questioning and Desiring (Further Knowledge) Concerning the Science of Horsemenship”.

Buku ini lebih lengkap dibandingkan karya-karya militer sebelumnya. Buku ini tidak hanya membahas soal kuda, pasukan, dan senjata, tetapi juga membahas doktrin dan pembahasan pembagian rampasan perang.


Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Dinasti Mamluk membuka hubungan dagang dengan negeri-negeri Barat, seperti Prancis dan Italia, melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir sebelumnya.

Jatuhnya Baghdad menjadikan kota Kairo sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa. Posisi Kairo menjadi lebih penting lagi setelah menghubungkan jalur perdagangan Laut Merah dan Laut Tengah dengan Eropa.

Keberhasilan bidang ekonomi tidak hanya terjadi di sektor perdagangan, tetapi juga di sektor pertanian. Hal ini ditandai dengan meningkatnya hasil-hasil pertanian.

Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antarkota, baik laut maupun darat. Ketangguhan angkatan laut Mamluk sangat membantu pengembangan perekonomiannya.

Ilmu Pengetahuan
Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, khazanah keilmuan banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan ilmu agama.

Dalam ilmu sejarah, tercatat nama-nama besar, seperti Ibnu Khalikan, Ibnu Taghribardi, dan Ibnu Khaldun. Di bidang astronomi, dikenal nama Nashiruddin At-Thusi. Di bidang matematika, ada Abul Faraj Al-'Ibry.

Dalam bidang kedokteran, sejarah mencatat sejumlah nama ilmuwan Muslim, seperti Abul Hasan Ali An-Nafis (penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia), Abdul Mun'im ad-Dimyathi (seorang dokter hewan), dan Ar-Razi’ (perintis psikoterapi). Dalam bidang optalmologi, dikenal nama Shalahuddin ibn Yusuf.

Dalam bidang ilmu keagamaan, tersohor nama Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang mujadid sekaligus mujahid dan ahli hadis dalam Islam. Selain itu, sejarah juga mencatat nama Imam As-Suyuthi yang menguasai banyak ilmu keagamaan dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menguasai ilmu hadis, fikih, dan sebagainya.
 

Arsitektur
Dinasti Mamalik juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan, tempat-tempat peristirahatan, kubah, dan menara masjid.

Kemajuan-kemajuan itu tercapai berkat kepribadian dan wibawa penguasa Mamluk yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat, dan stabilitas negara yang aman dari gangguan. Akan tetapi, ketika faktor-faktor tersebut menghilang, Dinasti Mamluk sedikit demi sedikit mengalami kemunduran.

Jawatan pos
Keberadaan jawatan pos pada era kejayaan Islam tak hanya sekadar sebagai pengantar pesan. Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir juga menjadikan jawatan pos sebagai alat pertahanan.

Guna mencegah invasi pasukan tentara Mongol di bawah komando Hulaghu Khan pada medio abad ke-13 M, para insinyur Mamluk membangun menara pengawas di sepanjang rute pos Irak hingga Mesir.

Di atas menara pengawas itu, selama 24 jam penuh, para penjaga telah menyiapkan tanda-tanda bahaya. Jika bahaya mengancam pada siang hari, petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam.

Pada malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil. Tentara Mongol mampu menembus Baghdad dan memorak-porandakan metropolis intelektual itu. Namun, peringatan awal yang ditempatkan di sepanjang rute pos itu juga berhasil mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo, Mesir.

Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Itu berarti sama dengan waktu yang diperlukan untuk menerima telegram dari Baghdad ke Kairo pada era modern.

Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamluk mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo.

Menurut sejarawan Barat, Paul Lunde, dalam tulisannya yang bertajuk “Dynasty of Warriors”, layanan pos melalui jalur darat pada era kekuasaan Dinasti Mamluk juga sempat terhenti ketika pasukan Tentara Salib memblokir rute pos.

Akan tetapi, penguasa Dinasti Mamluk tak kehabisan akal. Sejak saat itu, kata dia, Dinasti Mamluk mulai menggunakan merpati pos.

Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, pasukan Tentara Salib tak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak.

Merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari. Sejak itu, peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.

Lunde juga menuturkan, pada 1300 M Dinasti Mamluk memiliki tak kurang dari 1.900 merpati pos. Burung merpati itu sudah sangat terlatih dan teruji mampu mengirimkan pesan ke tempat tujuan.

Seorang tentara Jerman bernama Johan Schiltberger menuturkan kehebatan pasukan merpati pos yang dimiliki penguasa Dinasti Mamluk. “Sultan Mamluk mengirim surat dengan merpati sebab dia memiliki banyak musuh,” kata Schiltberger.

Dinasti Mamluk memang bukan yang pertama menggunakan merpati pos. Penggunaan merpati untuk mengirimkan pesan kali pertama diterapkan peradaban Mesir kuno pada 2900 SM.

Pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk, merpati pos juga berfungsi untuk mengirimkan pesanan pos parsel. Alkisah, penguasa Mamluk sangat puas dengan buah ceri dari Lebanon yang dikirimkan ke Kairo dengan burung merpati.

Setiap burung merpati membawa satu biji buah ceri yang dibungkus dengan kain sutra. Pada masa itu, sepasang burung merpati pos harganya mencapai seribu keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamluk itu tercatat sebagai sistem komunikasi yang tercepat pada Abad Pertengahan.


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !