Wednesday, May 23, 2012

Sisi 'lain' dan Romantis Candi Cangkuang, Garut

Indonesia, negeri yang banyak menyimpan cerita sejarah. Dari yang sudah terungkap sampai yang masih menjadi misteri. Dari peradaban zaman batu, Hindu, Budha, Islam, zaman penjajahan bangsa-bangsa Eropa, Jepang hingga sejarah modern yang terjadi sesudah kemerdekaan. Namun sayang tampaknya banyak orang yang kurang menyukai bidang sejarah. Minat untuk mengunjungi objek-objek wisata sejarah pun terkesan kuno, gak asyik, jadul dan sebagainya.

Padahal, mengetahui cerita sejarah itu menarik. Peninggalan sejarah pun banyak tersebar dari Sabang hingga Merauke. Tidak melulu berupa museum saja, dan tidak selalu membosankan. Banyak tempat wisata sejarah yang unik Salah satunya adalah Candi Cangkuang yang terletak di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut Jawa Barat. Keunikan tempat wisata ini karena memiliki sisi misterius dari cerita sejarahnya yang menarik untuk ditelusuri dan juga sisi romantis dari keindahan alam yang ada di sekelilingnya.

Walaupun kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa tercatat muncul di Jawa Barat, yang dikenal dengan Tarumanegara, jumlah candi peninggalan Hindu di Jawa Barat tidak banyak jika dibandingkan dengan di wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur. Candi Cangkuang adalah candi yang pertama kali ditemukan bahkan disinyalir menjadi satu-satunya Candi Hindu di Jawa Barat. Candi ini terletak di suatu pulau kecil (Kampung Pulo) di tengah telaga yang juga disebut sebagai Situ (danau) Cangkuang. Dinamakan Cangkuang karena di pulau tersebut, terdapat Pohon Cangkuang, yakni sejenis pohon yang buahnya mirip dengan buah cempedak hanya kulitnya tampak lebih kasar.

Perjalanan menuju Candi diawali dengan membayar tiket di pintu masuk seharga Rp. 5000,-/orang dan ongkos Rp.4000,- per orang untuk menaiki rakit yang melewati telaga. Selama perjalanan suasana hening, udara segar, dan pemandangan khas yang ada di sekelilingnya menjadi obat ampuh untuk mengusir kepenatan dari rutinitas kerja setiap hari. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana telaga tersebut dikelilingi oleh gunung-gunung seperti Gunung Halimun, Gunung Guntur, Gunung Mandalawangi dan Gunung Kaledong. Objek yang bagus dan layak diabadikan bagi siapa saja yang mempunyai hobi fotografi. Ketika di atas rakit juga, kita bisa menyelonjorkan kaki kita untuk bermain air di telaga, sungguh menyenangkan.

Menggunakan Rakit:


Rakit:


Candi Cangkuang memang sangat kecil jika dibandingkan dengan Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Meski begitu, menyelidiki misteri cerita di balik candi ini tidak kalah menariknya. Terlebih karena candi Hindu ini berdiri bersebelahan dengan makam Dalem Arif Muhammad yang merupakan seorang beragama Islam. Dari Museum yang ada di samping candi kita bisa mendapatkan informasi seputar candi. Ada pemandu yang siap membantu memberikan keterangan, ada juga tulisan-tulisan yang menceritakan sejarah Candi Cangkuang ini. Walaupun memang, pengetahuan mengenai candi ini belum sepenuhnya terungkap dan menyisakan misteri. Sebagian masih didasarkan pada asumsi atau dugaan para sejarawan.

Candi Cangkuang:

Berdasarkan informasi pemandu dan buku keterangan, Candi Cangkuang ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti sejarah Leles Harsoyo dan Drs. Uka Candrasmita. Hal tersebut bermula ketika Uka menemukan sebuah buku tua berjudul “Notule Bataviaasch Genootschap” yang ditulis seorang Belanda Vorderman pada tahun 1893. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa di daerah Garut, ditengah Situ Cangkuang, ditemukan kuburan kuno dengan nama nisan Dalem Arif Muhammad. Rupanya Vorderman merasa penasaran karena ia juga menemukan patung Shiwa yang berada di samping kuburan Islam ini. Hal tersebut menimbulkan teka teki bagi tim peneliti tentang ada apa sebenarnya di tempat tersebut.

Atas dasar itu Uka dan timnya melakukan peninjauan ke Kampung Pulo. Ia memang menemukan arca Shiwa yang sudah dalam keadaan rusak dan makam Islam seperti yang disebutkan Vorderman. Kemudian, pada tahun 1967-1968, penelitian dilanjutkan dan tim berhasil menemukan batu-batu yang merupakan bagian dari sebuah candi di sekitar area makam hingga radius 500 meter. Batu-batu tersebut banyak dimanfaatkan sebagai batu nisan pemakaman warga termasuk juga sebagai nisan makam Arif Muhammad sendiri. Uka dan timnya pun berusaha mengumpulkan bebatuan tersebut.

Setelah itu, dilakukanlah rekonstruksi Candi Cangkuang pada tahun 1974. Usaha ini kabarnya bukan tanpa kendala. Konon, banyak warga Kampung Pulo yang menentang karena menganggap pemugaran candi tersebut ingin menghidupkan kembali ajaran Hindu di daerah itu. Namun, dengan usaha yang gigih dari pihak berwenang, masyarakat pun akhirnya sadar kalau pemugaran candi tersebut untuk tujuan melestarikan kebudayaan nasional yang suatu hari kelak dapat bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Di samping puing-puing candi, pada saat itu tim peneliti juga menemukan benda-benda lain seperti serpihan pisau dan batu-batu besar yang diperkirakan berasal dari zaman batu megalitikum. Candi Cangkuang diperkirakan berasal dari abad ke-8 M. Akan tetapi, secara pasti siapa yang membangun candi tersebut serta untuk apa didirikan, apakah hanya untuk ibadah atau untuk mengenang orang kerajaan yang wafat, masih merupakan misteri.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Candi Cangkuang didirikan pada masa para Kerajaan Sunda yang merupakan salah satu pecahan dari kerajaan Tarumanegara (pecahan lainnya bernama Kerajaan Galuh). Berdasarkan cerita yang berkembang, pada waktu itu, putra mahkota kerajaan yang bernama Niskala Wastu Kancana, sebelum dinobatkan menjadi raja diminta mengembara ke daerah yang kala itu disebut Bianaya Jampang. Dalam perjalanannya, ia menemukan daerah Cangkuang dan mendapati penduduk sedang membangun Candi Syiwa. Kepada kepala kampung ia menyatakan rasa kurang setuju atas pendirian candi tersebut, padahal candi sudah setengah jadi. Setelah menerawang dengan kekuatan batinnya, Niskala Wastu Kancana berkata kepada si kepala kampung bahwa suatu hari akan muncul agama baru. Agama yang akan menguasai wilayah kampung tersebut dan sekitarnya. Menurutnya membangun candi di tempat itu adalah kurang tepat. Seharusnya dilakukan di tempat lain yang agak jauh.

Ramalan batin Niskala Wastu Kencana tampaknya tidak meleset. Beberapa abad kemudian Islam sudah menyebar dan menjadi agama penduduk di Kampung Pulo. Hal tersebut tidak terlepas dari cerita Arif Muhammad yang datang ke kampung tersebut diperkirakan pada abad ke-17 M. Masih menurut cerita yang berkembang, Arif Muhammad adalah utusan kerajaan Mataram yang ditugasi menyerang VOC di Batavia. Namun, penyerangan tersebut gagal. Arif Muhammad dan beberapa prajuritnya berhasil meloloskan diri hingga tiba di Kampung Pulo. Karena takut akan dihukum penguasa Mataram, mereka memilih untuk tinggal di sana dan mengajarkan Agama Islam.

Selain Hindu, pada saat itu masyarakat Kampung Pulo menjalankan kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Lambat laun mereka mulai mempelajari dan menganut Islam. Meskipun begitu, Arif Muhammad tetap menghargai adat, atau kebiasaan penduduk setempat. Misalnya, larangan untuk tidak boleh bekerja pada Hari Rabu, tidak boleh memukul gong dan tidak boleh memelihara ternak berkaki empat. Kebiasaan-kebiasaan tersebut tampaknya masih dijalankan sampai sekarang. Arif Muhammad juga tetap membiarkan reruntuhan Candi Hindu yang ada untuk menghargai keberadaan Agama Hindu di Kampung Pulo di masa lampau.

Hal lain yang menarik dari Situs Candi Cangkuang ini adalah terdapatnya komplek rumah adat yang terdiri dari 7 buah rumah di sekitar candi. Komplek tersebut telah dijadikan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Konon, rumah-rumah itu diperuntukkan bagi anak Arif Muhammad yang berjumlah 7 orang (6 wanita dan 1 laki-laki). Enam rumah yang berjajar berhadapan 3 sebelah kiri dan 3 sebelah kanan melambangkan anak wanita serta 1 mesjid yang terletak di tengah adalah lambang anak laki-laki (rumah anak laki-laki). Jumlah rumah anak Arif Muhammad ini tidak boleh ditambah atau dikurangi dan 6 rumah yang ada harus terdiri dari 6 kepala keluarga, juga tidak boleh lebih atau kurang. Jika ada anak yang menikah, maka anak tersebut harus keluar rumah paling lambat 2 minggu setelah menikah. Sesuai aturan juga, rumah-rumah tersebut dimiliki oleh pihak wanita dan bukan pria.

Kampung Pulo:

Setelah puas melihat-lihat Candi dan kampung adat hal yang mengasyikkan adalah berbelanja cindera mata atau duduk di tepi Situ Cangkuang melihat barisan rakit dengan latar pemandangan yang indah sambil menikmati hangatnya jagung atau ketan bakar. Ada sisi romantis yang ditawarkan ketika mengunjungi Candi Cangkuang ini.



Dari situs ini juga kita bisa mendapatkan pelajaran mengenai bagaimana kerukunan dan saling menghargai antar agama itu telah dikembangkan sejak lama oleh orang-orang di masa lampau. Sejarah memang telah berlalu, tapi sepatutnya tidak mesti kita lupakan begitu saja. Penting kita ketahui, sebagai sumber hikmah, contoh dalam menjalani hidup sekarang dan yang akan datang.

0 comments

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.